Andi Harun Tegaskan Asah Ketrampilan Lebih Penting Untuk Tingkatkan Kualitas SDM di Kaltim

Sabtu, 2 Maret 2024 - 09:31 WITA
Bagikan:

Samarinda, Sketsa.id  – Seminar yang bertajuk ” Membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Kaltim untuk Nusantara” ,Universitas Terbuka mengundang Andi Harun sebagai salah satu pembicara yang digelar di Convention Hall Plenary yang berada di Kawasan Jalan K.H. Wahid Hasyim, Samarinda, pada Sabtu (02/03/2024)pagi.

Pada kesempatan ini, Andi Harun berbagi pandangannya tentang pentingnya meningkatkan kualitas SDM di Kaltim, yang dimana provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi se-Kalimantan pada tahun 2023, yaitu 78,20 persen. Ia juga menyebutkan bahwa Samarinda menjadi kota dengan IPM tertinggi se-Kaltim di 2023 dengan angka 82,32 persen, yang mengalami peningkatan dari tahun 2021 dengan skor 80,76 persen, dan tahun 2022 dengan skor 81,43 persen.

Untuk diketahui, IPM merupakan salah satu tolak ukur  yang menunjukkan kualitas SDM suatu negara atau daerah, yang meliputi tiga dimensi, yaitu harapan hidup melek huruf, pendidikan, dan standar hidup layak. IPM juga menunjukkan seberapa baik penduduk dapat memanfaatkan hasil pembangunan dalam hal pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Namun, menurutnya IPM saja tidak cukup untuk menilai kualitas SDM. Ia menegaskan bahwa keterampilan dan kemampuan SDM juga harus diperhatikan sebagai ukuran yang lebih relevan.

“Ketika bicara soal SDM pertanyaan paling kritikal, apakah dengan IPM 78,20 persen tadi sudah cukup menentukan bobot dan kapasitas SDM kita?,” tanyanya.

“Saya jawab, ini mungkin atau bahkan berbeda oleh akademik atau pejabat pemerintah, ini anomali, kepala daerah itu melihat SDM di daerahnya, menurut saya (IPM) itu tidak cukup,” bebernya.

Ia memberikan contoh bahwa seorang sarjana tidak cukup hanya memiliki gelar, tetapi juga harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

“Sarjana harus memiliki keterampilan, sorry to say, kita di Indonesia ini tidak semua memiliki keterampilan tapi bersyukur bisa sarjana, padahal penting sekali keterampilan itu lebih dari gelarnya, hanya ada gelar tidak ada keterampilan? Omong kosong saja,” tegasnya.

Pada Seminar kali ini juga, Orang nomor satu di Samarinda itu juga juga mengajak para partisipan untuk bersiap menghadapi bonus demografi tahun 2030, yaitu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada jumlah penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Bonus demografi dapat menjadi peluang untuk mempercepat pembangunan, jika penduduk usia produktif tersebut memiliki kualitas SDM yang tinggi dan mendapatkan lapangan kerja yang cukup. (Adv/cc)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga