Tenggarong, Sketsa.id – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan meninjau ulang progres pembangunan hatchery atau balai pembenihan udang di Desa Tanjung Limau Kecamatan Muara Badak, sebelum melanjutkan pengerjaan pada 2027.
Kepala DKP Kukar, Muslik, mengatakan pembangunan fasilitas yang dimulai pada 2023–2024 tersebut belum dapat difungsikan karena masih terdapat sejumlah fasilitas yang belum terpenuhi. Pembangunannya tertunda sepanjang 2025–2026 akibat keterbatasan anggaran.
“Untuk tahun depan kita dorong, sehingga bisa operasional. Itu tinggal beberapa yang harus kita lakukan,” ungkapnya saat dihubungi, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan perkiraan sementara, progres fisik pembangunan hatchery baru mencapai sekitar 30–35 persen dari perencanaan awal. Karena itu, DKP akan mengevaluasi kembali kondisi bangunan dan fasilitas yang sudah tersedia untuk menentukan tahapan pengerjaan selanjutnya.
“Beberapa yang harus kita lakukan itu untuk pengamanan aset seperti pagar, instalasinya untuk listrik maupun air. Itu yang kurang,” bebernya.
Menurut Muslik, evaluasi diperlukan agar fasilitas yang sudah dibangun dapat dimanfaatkan secara bertahap, sembari melengkapi kebutuhan lainnya sesuai perencanaan dan ketersediaan anggaran.
DKP Kukar juga mengupayakan dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik. Usulan tersebut disiapkan karena perencanaan pembangunan telah tersedia dan diharapkan dapat masuk dalam struktur APBD Kukar tahun depan.
“Kita berharap Bapak Bupati mendorongnya untuk dana alokasi khusus. Ini yang kita mintakan ke kementerian atau pemerintah pusat,” harapnya.
Sementara itu, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, memastikan pembangunan hatchery Muara Badak akan dilanjutkan pada 2027 setelah tertunda akibat efisiensi anggaran.
“Iya, karena efisiensi. Jadi tahun depan kita lanjutkan lagi,” kata Aulia.
Keberadaan hatchery tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan benih udang bagi pembudidaya di Kukar. Pasalnya, kebutuhan benur udang di daerah tersebut mencapai lebih dari satu miliar ekor per tahun, sedangkan hatchery yang tersedia saat ini masih didominasi fasilitas berskala rumah tangga.
Apabila beroperasi sesuai kapasitas rencana, hatchery Muara Badak diproyeksikan mampu memproduksi hingga 250 juta ekor benur per tahun atau memenuhi sekitar 20–25 persen kebutuhan daerah.
Selain memperkuat pasokan benih udang, fasilitas tersebut juga diharapkan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) setelah beroperasi. Namun, realisasi target tersebut bergantung pada penyelesaian pembangunan, kesiapan fasilitas, dan operasional hatchery.
“Bisa menjadi PAD, karena menyediakan apa yang dibutuhkan daerah. Makanya kita akan cepat progres itu agar berfungsi sebagaimana mestinya,” tandasnya. (Adv/diskominfo Kukar/cc)










