Samarinda, Sketsa.id – Program beasiswa Gratispol yang digagas Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud-Seno Aji, kini berada dalam sorotan tajam. Di satu sisi, program ini dipuji sebagai terobosan besar di bidang pendidikan tinggi. Namun di sisi lain, tumpukan kendala teknis mulai memicu gelombang kritik dari masyarakat.
Menanggapi dinamika tersebut, Tenaga Ahli Gubernur Kaltim, Rusman Yaqub, angkat bicara. Mantan anggota DPRD Kaltim ini menegaskan bahwa esensi Gratispol jauh lebih besar daripada sekadar urusan administratif.
Rusman dengan tegas menyatakan program ini tidak layak dihentikan. Menurutnya, yang diperlukan adalah penyempurnaan, bukan pembatalan.
“Yang kami amati dan lihat di kalangan masyarakat adalah perdebatan teknis. Jadi mari kita lihat esensinya, tujuan utama Gratispol ini sangat bagus dan final. Semua publik sangat menghendaki adanya program ini,” tegas Rusman.
Kritik Teknis Dinilai Wajar
Rusman mengakui, perdebatan yang berkembang di masyarakat saat ini mayoritas masih berkutat pada wilayah teknis penyaluran dan persyaratan administrasi yang dinilai terlalu kaku. Meski begitu, ia menilai hal tersebut sebagai dinamika yang wajar dalam sebuah kebijakan publik berskala besar.
Menurutnya, pemerintah provinsi sangat menyadari adanya kekurangan dalam implementasi di lapangan. Rusman menjamin Gubernur Kaltim sangat terbuka terhadap masukan, terutama soal batasan usia dan kerumitan berkas yang banyak dikeluhkan.
“Semua itu dinamis, tidak ada yang instan seperti bim salabim atau semudah membalikkan telapak tangan. Program ini akan terus berubah ke arah yang lebih baik. Kami bersama Pak Gubernur siap menerima koreksi. Ayo bersama-sama memberikan masukan demi kebaikan ke depan,” tegasnya.
Di tengah polemik, realisasi anggaran program ini terus bergerak cepat. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Kaltim, Dasmiah, membeberkan data terbaru pencairan beasiswa.
Hingga pertengahan Maret 2026, pemerintah telah menyalurkan dana dalam dua tahap. Pada tahap kedua yang cair pada 17 Maret 2026, sebanyak 27.548 mahasiswa di 51 perguruan tinggi menerima manfaat dengan nilai anggaran Rp117,55 miliar.
Jika digabung dengan tahap pertama pada Februari 2026, total anggaran yang sudah dikucurkan menembus angka Rp220,65 miliar untuk 48.676 mahasiswa.
Target 158.981 Mahasiswa Sepanjang 2026
Target besar pun telah dipatok untuk sepanjang tahun 2026. Pemerintah Provinsi Kaltim memproyeksikan program ini mampu menjangkau hingga 158.981 mahasiswa dengan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp1,377 triliun.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menegaskan bahwa komitmen anggaran yang jumbo ini adalah bentuk nyata dari visi membangun sumber daya manusia di Bumi Etam. Baginya, hambatan fiskal tidak boleh menjadi alasan untuk memangkas jatah sektor pendidikan.
“Pendidikan adalah investasi masa depan. Kami ingin lebih banyak anak-anak Kaltim bisa berkuliah tanpa kendala biaya. Pencairan dana yang telah masuk ke kampus ini diharapkan dapat meringankan beban mahasiswa, sekaligus memastikan keberlanjutan pendidikan tinggi di Kaltim,” pungkas Gubernur yang akrab disapa Harum tersebut. (*)










