Jakarta, Sketsa.id – Dunia kesehatan kembali menyoroti lonjakan kasus Malaria Knowlesi atau yang dikenal sebagai Monkey Malaria di Malaysia. Tercatat 357 kasus dengan satu kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dari monyet ini. Di Indonesia, kasus serupa telah muncul di Aceh meski penanganannya dinilai masih terkendali.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, menjelaskan bahwa Malaria Knowlesi disebabkan oleh parasit plasmodium knowlesi yang menginfeksi monyet. Penularan ke manusia terjadi melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit tersebut.
“Terkadang monyet tidak meninggalkan habitatnya atau tidak meninggalkan hutan, mungkin sesekali keluar ke perkebunan. Tapi nyamuklah yang bersirkulasi di daerah hutan dan pinggir hutan. Setelah menggigit kera yang terinfeksi, nyamuk berisiko menggigit individu yang melakukan perjalanan ke hutan, di pinggiran hutan, bahkan sampai ke desa,” ujar dr. Inke dalam media briefing daring beberapa waktu lalu.
Tiga Faktor Harus Terpenuhi agar Penularan Terjadi
Dokter Inke mengungkapkan bahwa hanya jenis nyamuk tertentu, yaitu Anopheles, yang bisa membawa dan mendistribusikan penularan virus dari monyet ke manusia. Pola penularan hanya bisa terjadi jika tiga faktor berada dalam satu lingkungan: monyet yang terinfeksi, nyamuk Anopheles, dan manusia.
“Jadi ketiga hal ini yang menyebabkan terjadinya infeksi pada manusia. Tidak bisa ada nyamuknya dan ada manusia, tapi monyetnya tidak ada, tentu tidak akan terjadi penularan. Atau jika di hutan hanya ada monyet dan nyamuk, tidak ada manusia, maka tidak akan ada penularan,” jelasnya.
Gejala Malaria Knowlesi belum bisa dibedakan dengan jenis malaria lainnya. Masyarakat diminta waspada jika muncul tanda-tanda seperti demam naik turun dengan siklus tertentu, menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, lemas, mual muntah, batuk, hingga nyeri perut.
Yang membahayakan, siklus hidup parasit ini sangat cepat sehingga infeksi bisa dengan cepat menjadi berat.
“Karena siklus hidupnya sangat cepat, parasit cepat bertambah jumlahnya di dalam tubuh. Tanda-tandanya trombosit turun drastis, sesak napas, gagal ginjal, tubuh menguning, sampai kesadaran menurun,” tutur dr. Inke.
Obat Tersedia, Jangan Obat Sendiri
Masyarakat tak perlu panik. Obat Malaria Knowlesi sudah tersedia dan sama dengan obat malaria lainnya yaitu Artemisinin-based Combination Therapy. Namun penanganan harus cepat agar tidak terjadi infeksi berat.
“Lebih baik ketika diagnosis ditegakkan, obat diberikan dalam 48 jam untuk mencegah infeksi berat,” kata dr. Inke.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsi obat sendiri, termasuk antibiotik. Sebab malaria hanya bisa diobati dengan obat anti malaria, bukan antibiotik.
“Perlu menghindari pemberian obat sendiri, termasuk antibiotik. Infeksi malaria tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, harus dengan antimalaria,” pungkasnya. (*)









