Sistem Drone Farmasi Jadi Sorotan, Gedung Pandurata RSUD AWS Target Operasi Akhir 2026

Jumat, 26 Juni 2026 - 07:24 WITA
Bagikan:
Foto : Gedung Pandurata RS AWS. (sketsa.id)

Samarinda, Sketsa.id – Gedung Perawatan Pandurata di lingkungan RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda masih belum dapat melayani pasien meskipun pembangunan fisiknya hampir selesai. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur saat ini masih fokus menyelesaikan sejumlah pekerjaan penyempurnaan agar fasilitas kesehatan tersebut dapat beroperasi sesuai standar yang ditetapkan. Sejumlah penyesuaian masih dilakukan, mulai dari pemenuhan ketentuan terbaru sektor kesehatan hingga penyempurnaan beberapa fasilitas pendukung yang sebelumnya mendapat perhatian dalam proses evaluasi.

Kepala Dinas PUPR-PERA Kalimantan Timur, Aji Muhammad Fitra Firnanda, menjelaskan bahwa secara umum konstruksi Gedung Pandurata telah rampung. Namun, terdapat beberapa pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan sebelum bangunan diserahkan dan digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan, termasuk penyesuaian terhadap perubahan regulasi dan ketentuan dari Kementerian Kesehatan,” kata Fitra saat ditemui di Samarinda, Kamis (25/6/2026). Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan seluruh proses penyempurnaan dapat dirampungkan hingga akhir tahun 2026, sehingga Gedung Pandurata segera difungsikan untuk memperkuat kapasitas layanan kesehatan di rumah sakit rujukan terbesar di Kaltim.

Sistem Distribusi Farmasi Jalur Drone Jadi Sorotan

Salah satu fasilitas yang mendapat perhatian adalah sistem distribusi farmasi menggunakan jalur drone yang telah dirancang sebagai bagian dari konsep layanan modern di gedung tersebut. Fasilitas itu sempat menjadi catatan DPRD Kaltim karena dinilai memiliki potensi risiko terhadap keselamatan pasien, mengingat jalur distribusi berada pada area terbuka yang memerlukan pengamanan tambahan.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berencana memasang pagar pengaman untuk memastikan area tersebut memenuhi standar keselamatan operasional. Fitra menyebut distribusi obat dalam waktu dekat lebih memungkinkan dilakukan melalui jalur darat yang tersedia di bagian bawah gedung, meskipun jarak tempuhnya lebih panjang dibandingkan sistem drone. “Namun demikian, kemungkinan pemanfaatan sistem drone tetap terbuka apabila seluruh aspek keamanan telah terpenuhi,” ujarnya.

Di sisi lain, rencana pemanfaatan bangunan lama yang berada di kompleks RSUD AWS masih belum diputuskan. Sebagian layanan rumah sakit memang direncanakan berpindah ke Gedung Pandurata setelah operasional dimulai, namun keputusan terkait penggunaan aset bangunan yang nantinya tidak lagi difungsikan sepenuhnya menjadi kewenangan pihak manajemen rumah sakit.

Fitra menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh proses penyelesaian gedung berjalan sesuai target sehingga dapat segera mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. “Fokus kami saat ini masih pada penyelesaian dan penyempurnaan RS Pandurata. Setelah seluruh pekerjaan rampung dan serah terima dilakukan, rumah sakit tersebut baru dapat dioperasikan,” pungkasnya. (cc)

Bagikan:

Kronologi Perempuan Bandung Disekap dan Dianiaya Kekasih Selama 3 Tahun, Korban Sempat Tutupi Fakta