Orangutan Pertama Dievakuasi ke PRS Long Sam, Alami Malnutrisi Berat

Senin, 28 September 2026 - 10:56 WITA
Bagikan:
Foto : Kemunculan satu individu orangutan jantan berukuran besar di kawasan konsesi dan jalur logistik sekitar Kecamatan Muara Bengkal, viral. (dok BKSDA Kaltim)

Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Jagat media sosial sempat dihebohkan dengan video seekor orangutan yang direkam seorang operator excavator dari dalam kabin alat berat. Video itu cepat menyebar dan memantik reaksi warganet.

Tak butuh waktu lama, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitranya, Conservation Action Network (CAN), bergerak menelusuri keberadaan orangutan tersebut.

Upaya itu membuahkan hasil. Pada 14 September, orangutan itu ditemukan di Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Satwa dilindungi itu langsung dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam.

PRS Long Sam sendiri dikelola CAN dan berlokasi di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Kenapa Tidak Langsung Dilepasliarkan?

Pertanyaan ini sempat muncul. Sebab, beberapa orangutan lain yang dievakuasi dari kawasan yang sama langsung dilepasliarkan ke habitat alami. Namun, orangutan ini kondisinya berbeda.

Satwa tersebut mengalami malnutrisi berat. Body score-nya hanya 1 dari 5. Artinya, kondisinya sangat kurus. Tulang rusuknya sangat terlihat, menandakan kekurangan gizi yang serius.

Selain itu, orangutan ini juga mengalami dehidrasi parah. Kondisi itulah yang membuatnya harus menjalani rehabilitasi lebih dulu sebelum dilepasliarkan.

Founder CAN, Paulinus Kristanto, menuturkan bahwa saat tiba di PRS Long Sam, orangutan tersebut sangat lemah. Ia hanya sanggup berjalan beberapa meter.

“Orang utan ini alami dehidrasi banget. Karena sumber airnya tidak ada di sekitar situ,” ujarnya.

Menurut Paulinus, masih butuh waktu untuk memperbaiki kondisi fisik orangutan tersebut. Perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi.

“Saat ditemukan sangat lemas dan tidak mau makan, hanya minum saja. Dan baru pada hari keempat di PRS Long Sam baru mau makan. Itu mengindikasikan dehidrasi berat dan kekurangan sumber pakan,” jelasnya.

Saat ini, orangutan tersebut belum diberikan nama. Paulinus pun membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin memberikan usulan nama terbaik.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, membenarkan kondisi satwa tersebut. Menurutnya, orangutan itu mengalami malnutrisi dan dehidrasi berat.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan, kondisinya malnutrisi dan dehidrasi berat. Oleh karena itu, langsung kita lakukan upaya perawatan di tempat juga selama satu hari, 1 hari 24 jam. Kemudian langsung kita bawa ke tempat rehabilitasi kami yang ada di Conservation Action Network (CAN) di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, Berau,” terangnya.

Ari menduga, kondisi tersebut tak lepas dari kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur. Dehidrasi berat disebut menjadi penyebab utamanya.

“Dugaan kita karena kemarau yang cukup panjang ini kemungkinan akan mempengaruhi terhadap kehidupan dari satwa yang ada, tidak hanya orangutan tapi yang lain,” ujarnya.

Hingga kini, proses pemulihan orangutan tersebut masih berlangsung di PRS Long Sam. Tim berharap satwa ini segera pulih dan bisa dilepasliarkan kembali ke alam.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan manusia. Satwa liar pun turut terdampak dan membutuhkan penanganan serius dari berbagai pihak. (*)

Bagikan:

Padi Mulai Tumbuh, Bupati Kukar Ungkap Tradisi Unik Bertani Warga Danau Semayang