Tenggarong, Sketsa.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) berpacu dengan waktu untuk mengamankan pasokan air baku bagi warga Kecamatan Samboja. Pasalnya, ketersediaan air di Waduk Samboja yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air bersih terus menyusut.
Debit air yang sebelumnya mampu menyediakan sekitar 80 liter per detik, kini hanya tersisa sekitar 45 liter per detik. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus segera menyiapkan sumber air alternatif sebelum cadangan yang ada semakin menipis.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono Kasnu mengatakan, berdasarkan laporan Perumda Air Minum, persediaan air yang tersisa diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan produksi selama sekitar tiga bulan.
“Kalau dipaksakan produksinya dengan intensitas yang sama, sekitar 40 liter per detik setiap hari, paling tidak sampai tiga bulan sudah habis,” ungkapnya di Tenggarong, Jumat (6/11/2026).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Kukar mulai menyiapkan langkah pengamanan sumber air baku. Salah satunya dengan menjajaki kerja sama pemanfaatan waduk milik Balai Wilayah Sungai (BWS) yang memiliki tampungan air dengan debit relatif tinggi.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengupayakan pemanfaatan sejumlah void atau bekas lubang tambang milik perusahaan sebagai alternatif sumber air baku untuk kebutuhan Perumda Air Minum.
Sunggono menyebutkan, komunikasi dengan BWS sedang diupayakan agar pemanfaatan waduk ini bisa direalisasikan. Pemerintah menargetkan sumber air alternatif sudah dapat digunakan sebelum persediaan air di Waduk Samboja habis.
“Untuk pemenuhannya, paling lama dua bulan dari sumber air yang ada ini. Sebelum ini berakhir habis, kita memastikan bahwa kerja sama dengan BWS bisa dilaksanakan,” tegasnya.
Pemanfaatan waduk BWS diproyeksikan menjadi solusi jangka menengah. Dengan demikian, pelayanan air bersih kepada masyarakat Samboja tidak terus bergantung pada satu sumber air baku.
Di sisi lain, Pemkab Kukar juga menyiapkan langkah penanganan melalui distribusi air menggunakan mobil tangki. Perumda Air Minum setidaknya memiliki tiga unit mobil tangki mini berkapasitas masing-masing 10.000 liter.
Namun, kesiapan armada tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan karena keterbatasan sumber air untuk mengisi tangki sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
“Ada (mobil tanki). Sudah ada sebenarnya di sana, setidaknya ada tiga mobil mini tangki dengan kapasitas 10.000 liter yang kita persiapkan. Tapi sekali lagi, itu kan tempat mengangkat air saja. Sumber airnya tidak ada, apa yang diangkat,” jelas Sunggono.
“Doakan saja di sana hujan deras, intensitas tinggi, sehingga waduk terisi dan kita bisa memberikan pelayanan yang baik lagi untuk masyarakat di Samboja,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










