Emir Moeis Kenang Guruh Sukarnoputra: Kader Partai Tulen dan Seniman Sejati

Sabtu, 26 September 2026 - 10:57 WITA
Bagikan:
Foto : Guruh Sukarnoputra meninggal di usia 73 tahun. Emir Moeis kenang sosoknya sebagai seniman sejati. (ist)

Jakarta, Sketsa.id – Kepergian Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra meninggalkan duka mendalam bagi sahabat, rekan, dan kawan seperjuangannya. Putra bungsu pendiri bangsa Bung Karno itu meninggal di usia 73 tahun.

Politisi senior PDI Perjuangan, Ir. Emir Moeis, mengenang Guruh bukan sekadar rekan partai. Baginya, almarhum adalah kawan masa kecil sekaligus figur seniman yang teguh dengan ideologi.

Emir menceritakan kebersamaannya dengan almarhum saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar Perguruan Cikini (Percik), Jakarta. Saat itu, Emir di kelas 4 dan Guruh baru masuk kelas 1.

“Saya mengenal almarhum Mas Guruh sejak masih SD, kita satu sekolah di Perguruan Cikini. Cuma dia memang adik kelas saya, beda sekitar tiga tahunan. Karena beda umur, saya lebih banyak bermain dengan kakak-kakaknya,” kenang Emir kepada Suluh Indonesia, Sabtu (26/9/2026).

Kiprah di Awal Reformasi

Pertemuan keduanya lebih intensif ketika berkiprah bersama di dunia politik. Mas Guruh dan Emir Moeis sama-sama masuk Partai PDI Perjuangan pada rentang 1999 sampai 2000, menembus era awal Reformasi.

Pada masa krusial perubahan politik itu, keduanya berjuang menyuarakan gagasan-gagasan strategis. Menurut Emir, almarhum cukup punya peran dan kerap bersuara dalam hal perubahan Undang-Undang Dasar, amandemen, dan sebagainya.

“Waktu itu almarhum cukup punya peran dan kerap bersuara dalam hal perubahan Undang-Undang Dasar, amandemen, dan sebagainya,” ungkap mantan Ketua Panitia Anggaran DPR RI ini.

Tak hanya di panggung politik pusat, kebersamaan mereka juga terukir saat melakukan kunjungan kerja ke daerah di Kalimantan Timur. Daerah itu menjadi daerah binaan Emir Moeis sewaktu menjabat Anggota DPR RI.

Di luar aktivitas politik, Emir menyoroti ketertarikan Mas Guruh terhadap seni dan budaya daerah. Hal itu sangat terlihat ketika melakukan kunjungan.

Ia kerap mengunjungi tempat-tempat hasil kerajinan dan kesenian.

“Dan kalau dalam perjalanan, yang unik dari Mas Guruh nomor satu dia akan lihat hasil budaya, kemudian kesenian. Ke toko-toko barang-barang kesenian itu adalah selalu yang beliau kunjungi,” tutur Emir.

Bagi Emir, Mas Guruh adalah sosok ideolog dan seniman sejati. Salah satu karya yang paling membekas adalah lagu bertema ideologis ciptaan almarhum berjudul Resopim.

“Yang saya kagumi adalah kemampuannya membuat konsep-konsep orasi dan menciptakan lagu-lagu. Terakhir lagu ciptaannya yang saya dengar adalah Resopim (Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional). Beliau itu kader partai yang tulen, yang tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Menutup kenangannya, Emir menyebutkan bahwa setelah tidak lagi bertugas di DPR, intensitas pertemuannya dengan Mas Guruh berkurang. Namun, ia sempat bertemu kembali dalam sebuah perhelatan acara bersama keluarga besar.

“Sedih juga kehilangan Mas Guruh, adik kelas yang kader partai tulen. Mari kita sama-sama mendoakan agar almarhum diberikan tempat yang lapang di sisi Allah SWT, diterima semua amal baiknya, serta diampuni segala kesalahan dan dosanya,” pungkas Emir. (cc)

Bagikan:

Padi Mulai Tumbuh, Bupati Kukar Ungkap Tradisi Unik Bertani Warga Danau Semayang