Jakarta, Sketsa.id – Lee Cronin kembali melakukannya. Sutradara yang sukses membuat penonton ketakutan setengah mati lewat Evil Dead Rise kini menghidupkan kembali legenda mummy dengan cara yang jauh lebih modern, brutal, dan mengganggu.
The Mummy (2026) bukan sekadar remake atau sekuel murahan. Cronin mengambil mitos klasik Mesir kuno lalu membuang jauh-jauh nuansa petualangan ringan ala Brendan Fraser. Yang tersisa adalah horor psikologis yang lambat, mencekam, dan sangat sadis.
Film ini mengikuti seorang arkeolog muda yang tidak sengaja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di bawah pasir. Dari situ, Cronin membangun ketegangan dengan sabar. Tidak ada adegan action berlebihan atau jump scare murahan. Ketakutannya justru datang dari suasana yang semakin pengap, suara langkah di lorong gelap, dan bayangan yang bergerak pelan di balik kain pembungkus.
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah visual dan desain makhluk mummynya. Cronin dan timnya menciptakan sosok mummy yang terasa sangat organik — bukan monster CGI mengkilap, melainkan sesuatu yang basah, busuk, dan nyata. Efek praktis yang digunakan begitu dominan sehingga penonton benar-benar merasakan tekstur dan bobot kegelapan yang menjalar.
Akting utama juga sangat kuat. Pemeran utama berhasil menyampaikan perasaan putus asa dan ketakutan yang autentik, bukan sekadar teriak-teriak. Chemistry antar karakter terasa nyata, membuat penonton ikut merasakan tekanan emosional yang semakin berat seiring berjalannya cerita.
Yang paling menarik, Cronin tidak ragu mengeksplorasi tema yang lebih dalam: keserakahan manusia, warisan kolonial, dan harga yang harus dibayar ketika kita mengganggu sesuatu yang seharusnya tidak disentuh. Semua itu disisipkan tanpa terasa menggurui, tapi cukup kuat untuk membuat penonton merenung setelah lampu bioskop menyala.
Bagi yang mengharapkan The Mummy ala film action petualangan tahun 90-an, film ini mungkin akan terasa sangat berbeda. Tapi justru itulah kelebihannya. Lee Cronin berhasil membawa monster klasik ini ke era horor kontemporer dengan cara yang segar, cerdas, dan benar-benar menakutkan.
Bukan karena banyak teriakan, tapi karena ia berani diam, berani gelap, dan berani membuat penonton merasa tidak nyaman hingga detik terakhir. Jika Anda pecinta horor yang sudah bosan dengan formula yang sama, film ini wajib ditonton di bioskop. (cc)









