Oleh : Vivi Hariyanti
Samarinda – Digitalisasi kampus harusnya mempermudah urusan akademik mahasiswa, termasuk pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, aplikasi online saja tidak cukup, jika server langsung tumbang begitu apalagi diakses oleh ribuan orang sekaligus. Hal inilah yang menjadi sorotan tajam dalam pelaksanaan simulasi KKN Universitas Mulawarman pada 18 Mei 2026 lalu, Uji coba yang semula ditujukan guna mengukur kesiapan sistem, justru berujung pada rentetan kendala teknis. Padahal, program KKN pada tahun ini dirancang masif dengan melibatkan sebanyak sembilan perguruan tinggi di Kalimantan Timur, dengan total peserta mencapai 5.325 mahasiswa.
Keluhan ini datang langsung dari para mahasiswa yang ikut serta dalam simulasi tersebut. Masalahnya bukan sekadar web yang lambat di akses karena server down. Salah satu mahasiswa peserta simulasi KKN mengungkapkan bahwa sistem digital tersebut masih memiliki banyak celah yang rawan dimanfaatkan untuk berbuat kecurangan.
“Webnya sepertinya belum rampung sepenuhnya. Banyak celah kosong yang bisa diakali, jadi potensi kecurangannya tinggi,” ujar Aini.
Gara-gara sistem yang tidak stabil ini, mahasiswa tersebut sempat terlempar keluar dari web saat sedang memilih lokasi KKN. Akibatnya, ia kehilangan kesempatan untuk mengamankan lokasi yang yang sudah diincar.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh mahasiswa lain. Ia sama sekali tidak bisa masuk ke laman pemilihan pada jadwal yang telah ditentukan.
“Pas jamnya buka, sistemnya langsung down. Dampaknya itu bikin lambat memilih lokasi, karena jamnya tidak sesuai dan ada kemungkinan besar untuk dapat lokasi yang gak diinginkan” keluh Imah.
hanya berhenti di situ, mahasiswa juga menemukan kejanggalan lain berupa ketidaksesuaian kuota peserta di beberapa titik lokasi KKN. Hal tersebut memperkuat sinyal bahwa sistem tersebut belum bekerja sesuai aturan main.
Bagi penulis, karut-marut ini jelas bukan kendala teknis biasa. Dalam sistem pemilihan lokasi yang menerapkan skema “siapa cepat dia dapat“, stabilitas server adalah kunci utama. Ketika sebagian mahasiswa bisa masuk dengan lancar sementara yang lain terjebak error, di situlah aspek keadilan pelayanan akademik mulai dipertanyakan.
Suksesnya transformasi digital di lingkungan kampus tidak diukur dari seberapa banyak aplikasi yang diluncurkan, melainkan dari sejauh mana sistem tersebut mampu menjamin akses yang setara untuk semua mahasiswa. Jika pada tahap uji coba saja sudah keteteran, wajar jika publik meragukan kesiapan infrastruktur Unmul saat hari-H pelaksanaan nanti.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi perguruan tinggi bukan hanya soal pamer aplikasi baru, tapi tentang komitmen untuk terus mengevaluasi diri. Keluhan soal server yang lemot atau tiba-tiba down sebenarnya lagu lama yang terus berulang. Oleh sebab itu, evaluasi kali ini harus melahirkan solusi yang konkret.
Simulasi KKN ini harusnya menjadi alarm dini bagi pihak kampus untuk menambal lubang-lubang yang ada, bukan sekadar agenda formalitas yang catatannya menguap begitu saja setelah acara selesai.
Pada akhirnya, gangguan server saat simulasi bukanlah dosa besar, asalkan direspons dengan perbaikan cepat oleh pihak kampus. Mahasiswa tidak butuh deretan aplikasi canggih di atas kertas; mereka hanya butuh sistem yang bekerja dengan baik saat benar-benar digunakan. Simulasi KKN 2026 harus menjadi titik balik perbaikan total agar rapor merah ini tidak terulang kembali.










