Tenggarong, Sketsa.id – Lahan pertanian Kukar terdampak kekeringan terus diselamatkan Pemkab Kutai Kartanegara. Berbagai dukungan dikerahkan, mulai dari pompa, bahan bakar solar, hingga mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Moh. Rifani mengatakan, langkah itu dilakukan setelah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar).
Koordinasi tersebut untuk memetakan kondisi tanaman yang terdampak kemarau.
baca juga : Kukar Buka Kolaborasi Perusahaan Gelar Festival, Konsepnya “Keroyokan”
Menurutnya, tanaman padi terlebih dahulu diklasifikasikan berdasarkan umur tanam untuk menentukan tingkat kerawanan terhadap kekeringan. Padi yang ditanam pada Mei dan Juni relatif lebih aman karena sebagian besar telah memasuki masa panen.
“Yang aman itu biasanya umur padi setelah tanam 80 hari. Makanya rata-rata yang terdampak ini yang tanamnya di bulan Juli,” ungkapnya saat dihubungi, Selasa (29/9/2026).
Untuk tanaman yang masih membutuhkan pasokan air, pemerintah melakukan intervensi di sejumlah wilayah. Salah satunya melalui dukungan pompa yang ditempatkan pada lokasi pertanian yang mengalami kekurangan air.
Di Desa Kerta Buana, misalnya, dukungan pompa diberikan melalui BPBD untuk membantu memenuhi kebutuhan air lahan pertanian. Upaya serupa juga dilakukan di sejumlah titik di wilayah Tenggarong Seberang.
Sementara di Kecamatan Marangkayu, tepatnya di kawasan Semangkok dan Santan Hulu, BPBD turut memberikan dukungan berupa 1 ton solar. Bahan bakar tersebut digunakan untuk mendukung operasional penyediaan air bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Rifani mengatakan, penanganan tidak hanya difokuskan pada tanaman padi. Komoditas hortikultura juga menjadi perhatian karena mengalami kekurangan air akibat kondisi kemarau.
Di Desa Purwajaya, terdapat sekitar 10 – 15 hektare lahan hortikultura yang membutuhkan pasokan air. Untuk membantu lahan tersebut, BPBD mengerahkan mobil tangki dengan mengambil air dari sungai untuk kemudian dialirkan ke tempat penampungan.
“Jadi untuk mengambil air dari sungai dimasukkan ke tempat penampungan. Jadi semua bergerak,” bebernya.
Distanak bersama BPBD dan Damkar masih melakukan penanganan secara bertahap di sejumlah lokasi. Upaya tersebut diarahkan untuk mempertahankan kondisi tanaman agar tidak mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
Rifani mengakui, kemarau tetap memberikan dampak terhadap produktivitas pertanian. Namun, hingga saat ini pihaknya belum menghitung secara pasti persentase penurunan produksi yang terjadi.
“Pasti (ada penurunan),” katanya.
Ia menggambarkan, hasil produksi yang dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 2 – 3 ton berpotensi mengalami penurunan akibat kemarau. Meski demikian, pemerintah lebih memprioritaskan agar tanaman yang terdampak masih dapat dipanen.
“Belum kita hitung. Cuma kalau turun pasti turun. Tapi yang penting mereka bisa panen dulu,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










