Samarinda, Sketsa.id – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kualitas pendidikan di Kota Samarinda secara umum sudah cukup baik. Namun, pemerataan akses dan persepsi masyarakat terhadap sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Menurutnya, pemerintah telah membuka informasi terkait daya tampung sekolah, jumlah rombongan belajar (rombel), hingga sistem rayonisasi secara transparan. Akan tetapi, berbagai persoalan tetap muncul karena banyak orang tua masih berorientasi pada sekolah yang dianggap favorit.
“Daya tampung setiap sekolah sebenarnya sudah dipublikasikan secara jelas dalam petunjuk teknis, termasuk jumlah rombongan belajar dan kapasitas penerimaan peserta didik. Informasi mengenai rayonisasi juga telah disampaikan dan dipasang di depan sekolah,” ujar Sri Puji Astuti, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, pilihan masyarakat terhadap sekolah tertentu tidak hanya dipengaruhi faktor kualitas pendidikan, tetapi juga faktor emosional dan sosial. Banyak orang tua ingin menyekolahkan anak di sekolah yang pernah mereka tempati, sementara sebagian siswa memilih sekolah yang sama dengan teman-temannya meski lokasinya jauh dari tempat tinggal.
Orang Tua Masih Terpaku pada Sekolah Favorit
Sri Puji menyoroti fenomena orang tua yang masih terpaku pada sekolah-sekolah yang dianggap unggulan. Di kawasan padat penduduk seperti Samarinda Seberang dan Loa Janan, masyarakat cenderung memilih SMP Negeri 2 atau SMP Negeri 6, sementara sekolah yang lebih baru seperti SMP Negeri 45 kurang diminati.
“Padahal sekolah baru belum tentu memiliki kualitas yang buruk,” tegasnya. Menurutnya, persoalan utama adalah kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang belum memiliki citra kuat, padahal sekolah unggulan pun tidak terlepas dari berbagai persoalan internal.
Sri Puji juga menyoroti pola pikir sebagian orang tua yang menganggap sekolah favorit sebagai satu-satunya jalan menuju pendidikan berkualitas, sehingga rela mengeluarkan biaya besar untuk bimbingan belajar namun kurang memberikan perhatian pada pendidikan di rumah.
“Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan media,” ujarnya. Ia menambahkan, hasil Asesmen Nasional masih menunjukkan rendahnya tingkat literasi peserta didik, sehingga peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada persoalan masuk sekolah favorit. (cc)










