Jakarta, Sketsa.id – Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menyoroti rekam jejak taksi listrik asal Vietnam, Green SM, yang diduga menjadi penyebab kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden itu menewaskan 14 orang dan melukai puluhan lainnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur. Tragedi ini berawal sekitar 35 menit sebelumnya di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, di mana sebuah taksi listrik Green SM mogok di tengah rel dan tertemper KRL CRRC Jakarta–Cikarang. Akibatnya, KRL di belakangnya tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Melihat kejadian tersebut, Sahroni mendesak kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mendalami dugaan kelalaian taksi Green SM. “Saya minta polisi bekerja sama dengan KNKT untuk selidiki betul keterlibatan taksi Green SM yang diduga menjadi salah satu pemicu tabrakan maut ini,” ujar Sahroni dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).
Ia juga menyoroti bahwa mobil listrik memiliki karakteristik tersendiri, terutama saat berinteraksi dengan sinyal rel. “Perlu diperiksa benar apakah sopir memang sengaja melewati rel setelah tahu akan ada kereta melintas. Mobil listrik kalau bertemu sinyal rel bisa langsung berhenti. Ini bahaya sekali,” tegasnya.
Sahroni menambahkan, jika ditemukan unsur kesengajaan, tidak hanya sopir yang harus dihukum berat, tetapi perusahaannya juga harus dikenai sanksi. “Indonesia terbuka untuk investasi, tapi bukan berarti bisnis dijalankan tanpa SOP yang ketat dan meresahkan masyarakat,” ujarnya.
Rekam Jejak Green SM di Medsos: Sering Ugal-ugalan
Sahroni menyoroti track record taksi listrik tersebut yang menurutnya kerap menimbulkan keresahan. “Kalau kita lihat di media sosial, armada ini sering ugal-ugalan dan meresahkan. Sudah banyak laporan dari masyarakat,” ungkapnya.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa pada Desember 2025 lalu, taksi yang sama pernah ditabrak kereta di wilayah Sawah Besar, Jakarta Pusat, karena diduga menerobos palang pintu. “Artinya, ada pola dan kelalaian sistemik yang harus dievaluasi. Bisa saja dijatuhi sanksi,” pungkas Sahroni.
Update Korban: 14 Meninggal, 84 Luka-luka
PT Kereta Api Indonesia mengupdate jumlah korban kecelakaan hingga Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa korban meninggal dunia tercatat 14 orang dan telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi. Sementara 84 korban luka mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit seperti RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Green SM Buka Suara
Green SM Indonesia akhirnya buka suara terkait insiden tersebut. Perusahaan menyampaikan keprihatinan mendalam dan menegaskan tengah memberikan perhatian penuh terhadap peristiwa yang melibatkan armadanya. Mereka juga memastikan telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang untuk mendukung proses investigasi.
“Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi,” demikian pernyataan resmi Green SM Indonesia. Perusahaan berkomitmen menjaga standar keselamatan melalui sistem operasional, pengawasan, dan peningkatan layanan secara berkelanjutan. (*)










