Teheran, Sketsa.id – Pemerintah Iran secara resmi memberlakukan blokade total di Selat Hormuz dan hanya mengizinkan kapal China dan Rusia melintasi jalur perairan strategis tersebut. Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik berkepanjangan antara Teheran dengan Israel dan Amerika Serikat, memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
“Langkah ini merupakan gestur strategis penghargaan atas dukungan diplomatik dan ekonomi berkelanjutan dari Beijing dan Moskow sepanjang perang saat ini dengan Israel dan Amerika Serikat,” demikian pernyataan resmi Teheran, Sabtu (7/3/2026).
Pemerintah Iran menegaskan sikap “teguh” kedua negara adidaya itu di forum internasional serta penolakan mereka terhadap sanksi yang dipimpin Barat menjadi alasan di balik hak lintas eksklusif tersebut. Pengumuman yang disiarkan melalui media nasional Iran ini mengonfirmasi bahwa titik paling vital bagi pasokan energi dunia kini secara efektif tertutup bagi armada global.
Unit angkatan laut Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) bahkan telah diberi wewenang untuk “langsung menargetkan dan menetralkan” kapal mana pun yang tidak berwenang mencoba memaksa melintas. Larangan ini mencakup kapal tanker minyak, kapal pengangkut LNG, dan kapal kargo dari semua negara lain, termasuk negara netral dan tetangga regional Iran.
Selat Hormuz selama ini menjadi arteri utama bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan porsi signifikan gas alam cair (LNG) global. Para analis pasar memperingatkan blokade “selektif” yang hanya menguntungkan dua negara ini berpotensi memicu gejolak harga energi dan gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketegangan diperkirakan akan melonjak drastis jika kapal-kapal tanker minyak dari negara Teluk lainnya mencoba untuk tetap berlayar. Akses eksklusif yang diberikan kepada China dan Rusia menempatkan kedua negara tersebut dalam posisi rumit sebagai penerima manfaat sekaligus mediator potensial.
Di sisi lain, Armada Kelima Amerika Serikat dan pasukan tugas sekutu dilaporkan telah meningkatkan kewaspadaan ke status “siaga tinggi“. Namun, hingga saat ini, pihak AS belum secara langsung menantang blokade tersebut, yang ditengarai sebagai upaya untuk menghindari pecahnya pertempuran laut berskala lebih luas di kawasan tersebut. (cc)










