Samarinda, Sketsa.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun mengungkapkan kejanggalan dalam pembagian laba PT Bank Kaltimtara. Dalam tiga tahun terakhir, laba bank terus meningkat, namun dividen yang diterima pemegang saham justru menurun. Hal ini disampaikannya saat menemui awak media, Kamis (30/4/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan Andi, laba Bank Kaltimtara pada 2023 mencapai Rp333,95 miliar, naik menjadi Rp396,14 miliar pada 2024, dan kembali meningkat menjadi Rp485,15 miliar pada 2025. Namun, tren kenaikan laba itu tidak diikuti peningkatan dividen.
“Kami sebagai pemegang saham, yang merupakan uang rakyat, berhak tahu mengapa laba naik tapi dividen turun. Di RUPS kemarin, kami tidak mendapatkan informasi yang memadai. Jawabannya dangkal dan cenderung lari dari substansi,” tegas Andi.
Setelah menggali laporan keuangan bank, Andi menemukan bahwa hanya 52 persen dari total laba yang dibagikan sebagai dividen. Sisanya, 29 persen dialokasikan untuk cadangan, 17 persen untuk dana pembangunan, dan 2 persen untuk kesejahteraan.
“Nah, kami mempertanyakan 17 persen dana pembangunan itu dipakai untuk apa? Pembangunan apa? Pemegang saham berhak tahu. Begitu juga 2 persen untuk kesejahteraan, untuk siapa? Apakah untuk direksi, komisaris, atau pegawai? Sampai RUPS berakhir, kami tidak mendapat jawaban,” ujarnya.
Andi menyebut struktur pemanfaatan laba ini tidak adil dan tidak transparan. Ia bahkan mengancam akan mengusulkan perubahan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur komposisi tersebut.
“Kami akan mengajukan usulan perubahan perda kepada DPRD Provinsi. Karena komposisi ini tidak adil dan berpengaruh signifikan terhadap penurunan dividen,” tegasnya.
Keberatan soal Penambahan Modal dan Risiko Dilusi
Selain soal laba dan dividen, Andi juga menyoroti rencana penambahan modal sebesar Rp500 miliar pada 2026 yang diagendakan dalam RUPS. Menurutnya, di tengah efisiensi anggaran saat ini, pemerintah kota tidak mampu ikut serta dalam penambahan modal.
“Kami khawatir terjadi dilusi (penurunan persentase kepemilikan saham). Samarinda sudah mengalami dilusi dari 0,85 persen pada 2024 menjadi 0,82 persen sekarang. Kalau ini terus berulang, apa manfaatnya Samarinda menaruh uang di Bank Kaltimtara?” ujarnya.
Andi mengusulkan agar sebelum dibawa ke RUPS, ada forum pra-RUPS untuk membahas bisnis plan, proyeksi laba, target dividen, hingga analisis risiko investasi.
“Kami hanya pemegang saham minoritas. Kami hanya bisa menyarankan. Maju atau tidak, tergantung pemegang saham pengendali,” pungkasnya. (cc)










