Jakarta, Sketsa.id – Badai sempurna melanda pasar keuangan Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus level psikologis Rp18.000, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas ke level terendah sejak era pandemi Covid-19.
Pada Kamis (4/6/2026) akan tercatat sebagai salah satu hari tergelap dalam sejarah ekonomi Indonesia. Dua indikator utama pasar keuangan kompak menunjukkan kinerja terburuknya di saat yang bersamaan.
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp18.003 per dolar AS dan terus tertekan hingga mencapai Rp18.027 pada pukul 10.24 WIB. Level ini melampaui rekor terburuk sebelumnya saat krisis moneter 1998 yang “hanya” menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengakui tekanan yang dihadapi rupiah sangat masif. Namun ia memastikan otoritas moneter terus berada di pasar untuk melakukan intervensi.
“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas,” kata Denny dalam keterangan resminya, Rabu (3/6/2026).
Penyebab utama pelemahan rupiah:
- Ketegangan geopolitik Timur Tengah – Eskalasi konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan permintaan dolar sebagai aset safe haven
- Suku bunga AS tetap tinggi – Data ketenagakerjaan AS yang solid memperkuat ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama
- Meningkatnya impor bahan baku – Kebutuhan valas untuk impor energi dan pembayaran utang jatuh tempo membebani rupiah
- Inflasi domestik yang naik – Inflasi Mei 2026 tercatat 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibanding April yang hanya 0,13 persen
IHSG Ambruk ke Level Terendah Sejak 2021
Tak hanya rupiah, IHSG juga menunjukkan kinerja buruk. Pada pukul 10.02 WIB, indeks saham utama Tanah Air itu terjun bebas 4,15 persen atau 247 basis poin ke level 5.693.
Pelemahan ini melanjutkan tekanan jual yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, di mana IHSG sudah ditutup terkoreksi 4,11 persen di level 5.941.
Saham-saham besar yang menjadi penekan utama IHSG:
- BBCA (-3,17%)
- TPIA (-9,9%)
- BMRI (-2,22%)
- BBRI (-3,1%)
- AMMN (-9,37%)
Kapitalisasi pasar bursa juga tergerus signifikan hingga menyentuh Rp10.311 triliun. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp993,23 miliar hanya dalam satu hari perdagangan.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperingatkan bahwa jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, berpotensi menguji support berikutnya di rentang 5.750-5.840.
Penyebab IHSG Terjun Bebas
Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengidentifikasi lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini:
- Tata kelola dan kredibilitas kebijakan – Menyusul outlook negatif dari Moody’s dan Fitch yang diikuti dengan tekanan rupiah mendekati Rp18.000
- Arus modal asing yang terus keluar – Investor asing mencatat net sell Rp66,20 triliun sepanjang tahun berjalan
- Penyusutan kelas menengah – Kelompok yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik tergerus
- Leadership and policy communication risk – Risiko komunikasi kebijakan di mata investor global meningkat
- Pelemahan rupiah yang berkepanjangan – Mengancam stabilitas makroekonomi domestik
“Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” ujar Liza dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).
Kontras dengan Bursa Negara Lain
Yang membuat kondisi ini semakin memprihatinkan adalah ketimpangan kinerja dengan bursa negara lain. Di saat IHSG terpuruk, beberapa bursa global justru masih mampu mencatatkan rekor baru masing-masing.
Catatan kinerja bursa global:
- EIDO (ETF Indonesia) mencatat return -28,6 persen sejak awal 2025
- Pasar negara berkembang (emerging markets) secara rata-rata naik 64,6 persen
- Vietnam: +63,2 persen
- Taiwan: +107,2 persen
Langkah Bank Indonesia
Menghadapi tekanan ini, BI telah mengambil sejumlah langkah strategis:
- Memperketat threshold pembelian dolar AS – Mulai 2 Juni 2026, batas pembelian dolar tanpa underlying diturunkan menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan (sebelumnya 50.000 dolar AS)
- Intervensi pasar spot dan DNDF – Memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik
- Mendorong Local Currency Transaction (LCT) – Mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral dengan negara mitra (China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan UEA)
- Memperkuat koordinasi – Dengan pemerintah, OJK, perbankan, dan pelaku pasar
“Bank Indonesia memandang stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan,” tegas Denny.
Proyeksi ke Depan
Para analis memprediksi tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia masih akan berlanjut. MNCS Retail Research menyebut bahwa pelemahan pasar domestik sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang bergerak di zona merah, dipicu meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi AS-Iran.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa harga minyak yang kembali naik memicu kecemasan akan inflasi. Hal ini akan meningkatkan peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan BI Rate pada tahun ini, terutama jika rupiah terus berlanjut melemah.
Meski demikian, Liza menegaskan bahwa Indonesia belum memasuki fase penurunan peringkat secara struktural (structural de-rating). Namun ia mengingatkan bahwa pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia dengan berbeda dibanding negara berkembang lainnya.
“Kondisi dapat dilihat dari pasar yang terlihat mulai memperlakukan Indonesia dengan berbeda dibanding emerging markets lain,” pungkasnya. (*)










