Samarinda, Sketsa.id – Enam bulan sudah. Itu lama bagi seorang anak untuk duduk di lantai sambil belajar. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi siswa SD Negeri 013 Samarinda di Jalan Masaji, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Sambutan.
Sejak awal semester dua tahun ajaran berjalan, ruang kelas baru mereka sudah ditempati. Sayangnya, meja dan kursi belum tersedia. Alhasil, para siswa terpaksa duduk lesehan di lantai ubin tanpa alas. Setiap pagi, mereka datang dengan membawa meja lipat dari rumah masing-masing.
Dari pantauan di lokasi, Rabu (3/6/2026), suasana kelas terlihat tidak biasa. Puluhan anak duduk bersila di lantai. Meja lipat warna-warni berjejer di depan mereka. Tidak ada bangku. Tidak ada meja kayu seperti sekolah pada umumnya.
Meski demikian, semangat belajar mereka tidak lantas padam. Wajah-wajah kecil itu tetap bersemangat mengikuti pelajaran. Namun di balik semangat itu, ada getir yang tak bisa disembunyikan.
Dian Kuswoyo, guru kelas 3 di sekolah tersebut, mengakui bahwa proses belajar mengajar jauh dari ideal.
“Kalau namanya duduk di bawah ini kurang maksimal. Tidak seperti kalau ada meja dan kursi. Kalau ada kegiatan kan lebih leluasa. Seperti ini anak-anak cepat jenuh karena duduknya di bawah, cepat lelah dan cepat capek,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia menjelaskan, sejak bangunan kelas baru ditempati di awal semester dua, fasilitas meja dan kursi memang belum tersedia. Pihak sekolah dan orang tua sempat berembuk. Solusi sementara pun disepakati: setiap anak membawa meja lipat sendiri dari rumah.
“Semester dua ini, semenjak bangunan ditempati, tidak ada meja dan kursinya. Jadi orang tua sepakat membawa meja sendiri dari rumah supaya anak-anak tetap bisa belajar,” katanya.
Kondisi ini tentu tidak mudah bagi anak-anak. Belum lagi para orang tua yang setiap hari melihat buah hatinya belajar dalam keadaan tidak nyaman.
Devi, orang tua siswa kelas 2, menceritakan keluhan anaknya. Sang anak kerkali mengeluh sakit karena harus duduk di lantai berjam-jam.
“Kasihan kan. Dia bilang pantatnya sakit karena duduk terus di bawah. Namanya juga anak-anak, pasti lebih nyaman kalau ada kursinya seperti yang lain,” ujarnya.
Fitri, orang tua siswa lainnya, juga menyampaikan keresahan yang sama. Ia mengaku sedih melihat anak-anak harus belajar dalam kondisi yang jauh dari layak.
Ia menyebut, meja lipat yang digunakan para siswa saat ini dibeli secara mandiri oleh orang tua dengan harga sekitar Rp30 ribu per buah.
“Itu bukan jadi hak milik sekolah. Kita hanya untuk fasilitas anak-anak sementara,” katanya.
Fitri juga mengungkapkan bahwa beberapa orang tua kerap melaporkan anaknya sering sakit. Keluhan yang paling umum adalah masuk angin dan perut kembung.
“Memang sering ada yang mengeluh anaknya masuk angin, perut kembung, sering izin sakit. Mungkin ada penyakit bawaan, tetapi mungkin juga karena kedinginan tanpa alas, sekolah tanpa adanya kursi dan meja,” tuturnya.
Ia berharap kondisi ini segera mendapat perhatian. Pemerintah kota, dalam hal ini Dinas Pendidikan Samarinda, diharapkan segera turun tangan.
“Harapannya semoga bisa mendapatkan kursi dan meja secepatnya,” pungkas Fitri.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah masih mengandalkan meja lipat bawaannya siswa. Tidak ada kepastian kapan meja dan kursi permanen akan tersedia.
Sementara itu, para guru tetap berusaha memberikan yang terbaik. Meski lesehan, meski terbatas, mereka tak ingin anak-anak kehilangan semangat belajar.
Namun tentu, semangat saja tidak cukup. Anak-anak ini butuh fasilitas yang layak. Mereka butuh meja dan kursi. Bukan hanya meja lipat yang dibawa dari rumah setiap pagi dan dibawa pulang setiap siang. (cc)










