Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis bagi peserta didik di tengah kemudahan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Para tenaga pendidik pun diminta tidak hanya mengenalkan pemanfaatan teknologi saja, tetapi juga membimbing siswa agar mampu menganalisis informasi dan memahami suatu persoalan.
Dikatakan Kepala Disdikbud Kukar Heriansyah bahwa, guru menjadi kunci penting dalam mengarahkan penggunaan AI di lingkungan pendidikan. Teknologi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi proses pengembangan pola pikir siswa tetap membutuhkan pendampingan pendidik.
“Bagaimana caranya menggunakan AI, itu juga harus diimbangi dengan pertanyaan kritis dari proses awal tadi, tetapi selanjutnya dibimbing oleh gurunya untuk berpikir kritis,” ungkapnya di Tenggarong, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis perlu dibangun dengan membiasakan siswa-siswi mempertanyakan berbagai hal yang mereka temukan.
Mereka tidak cukup hanya mengetahui jawaban, tetapi juga harus memahami alasan suatu peristiwa terjadi, bagaimana prosesnya, serta apa dampak yang dihasilkan.
Pendekatan tersebut penting agar peserta didik tidak sekadar menerima informasi secara mentah, termasuk jawaban yang diperoleh melalui AI.
Di sinilah peran tenaga pendidik, guru perlu mengarahkan siswa untuk menguji informasi dan mengembangkan pemahaman melalui proses pembelajaran.
“Berpikir kritis itu mempertanyakan hal ini kenapa terjadi. Lalu bagaimana nanti, hasilnya seperti apa, output-nya seperti apa, outcome-nya seperti apa,” tuturnya.
Di sisi lain, Heriansyah mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak-anak yang mahir mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga harus membangun kedisiplinan, kemandirian, kejujuran, kesetiaan, dan integritas.
Ia menilai, peran guru tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Sebab, terdapat proses pendidikan yang membutuhkan keteladanan dan pendampingan langsung agar nilai-nilai karakter dapat tertanam dalam diri peserta didik.
“Percuma orang pintar mengoperasikan, tapi kalau dia tidak punya integritas,” tegasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Disdikbud Kukar berharap semakin banyak pelatih dan guru yang menguasai perkembangan teknologi, khususnya AI. Kemampuan ini diperlukan agar pendidik dapat mengikuti perubahan metode pembelajaran tanpa mengesampingkan tanggung jawab dalam membentuk karakter anak.
Heriansyah berharap, perpaduan antara penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, dan pendidikan karakter dapat melahirkan generasi Kukar yang memiliki keterampilan serta kompetensi mumpuni.
“Harapannya, anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang mempunyai sumber daya manusia unggul, punya skill, punya kompetensi dan punya integritas,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










