Ali Kusno: Publik Kaltim Punya Irama Sendiri, Tak Bisa Didikte

Selasa, 21 April 2026 - 16:48 WITA
Bagikan:
Foto: Ali Kusno Ahli Bahasa, Kepakaran Linguistik Forensik. (doc)

Samarinda, Sketsa.id – Peristiwa yang membuncah di jantung Kota Samarinda pada 21 April 2026 menyajikan sebuah tontonan menarik. Sebagai seorang yang sehari-hari bergelut dengan bahasa, saya melihat fenomena ini melampaui sekadar hiruk-pikuk politik atau gesekan kepentingan. Ini soal bagaimana kita sebagai masyarakat beradab mengelola perbedaan melalui kata-kata dan gestur di ruang publik.

Apa yang kita saksikan sebenarnya adalah kemenangan bersama sekaligus kekalahan telak bagi para konduktor yang mencoba mengarahkan kegaduhan di Bumi Etam. Kelancaran aksi hari itu menguatkan bahwa publik Kaltim punya irama sendiri. Sebuah simfoni persatuan yang tak bisa didikte oleh partitur kepentingan. Ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang mencoba mendesain kekacauan. Mereka kalah telak oleh kedewasaan warga Kaltim yang lebih mencintai kedamaian daripada sekadar retorika penyesatan.

Apresiasi layak disematkan kepada kawan-kawan mahasiswa. Di tengah tensi yang meninggi dan sorotan kamera, mereka berhasil menunjukkan kualitas intelektualitas dengan menjaga kemurnian tuntutan. Mereka membuktikan bahwa keberanian bersuara tidak harus meninggalkan martabat dan kesantunan. Dan gayung pun bersambut. Pemerintah Provinsi Kaltim mampu mengimbangi dengan performa komunikasi yang matang. Gubernur merepresentasikan diri sebagai pemimpin terbuka yang siap menerima kritik. Seorang pemimpin yang mengutamakan dialog, bukan konfrontasi. Memang begitulah seharusnya.

Terkait belum terjadinya dialog langsung hingga aksi selesai, tentu pihak kepolisian memiliki pertimbangan kuat sebagai penanggung jawab keamanan. Saya meyakini tim gubernur sudah mempertimbangkan untuk membuka ruang dialog pada waktu yang lebih kondusif. Segala tuntutan yang disampaikan seharusnya sudah menjadi catatan.

Di balik dinamika ini, ada fakta sosiologis yang harus disadari seluruh jajaran pemerintah daerah. Kehadiran masyarakat yang kritis bukanlah ancaman bagi stabilitas, melainkan keniscayaan dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Kaltim. 

Masyarakat yang berani mengkritik, mempertanyakan kebijakan, dan menuntut transparansi adalah cermin keberhasilan pendidikan. Daerah dengan IPM tinggi selalu ditandai dengan warga yang memiliki nalar kritis sehat. Oleh karena itu, pimpinan daerah harus membuka diri. Saatnya bersikap terbuka terhadap setiap kritikan. Tanpa daya kritis masyarakat, pembangunan hanya akan menjadi narasi satu arah yang rentan terhadap penyimpangan.

Kita juga perlu merenungkan analogi sederhana: dalam setiap peperangan, selalu ada pabrik senjata yang mengais keuntungan. Mereka tak peduli siapa yang menang atau terluka, selama komoditas konflik terus diproduksi. Demikian pula dalam kegaduhan politik. Ada pihak-pihak yang mungkin tak tampak di barisan massa, namun merekalah yang memasok peluru provokasi. Sudah saatnya kita berhenti menjadi instrumen narasi destruktif. Kita harus tetap berkembang tanpa perlu menciptakan kekacauan. Pembangunan sejati membutuhkan napas kedamaian sebagai fondasi utama.

Pasca aksi, ini harus jadi momentum refleksi.

Rangkaian kegaduhan yang berlalu adalah sinyal bahwa ada sumbatan komunikasi yang harus segera diurai. Kunci perbaikan internal terletak pada komunikasi, empati publik, dan soliditas barisan. Seluruh OPD harus berada dalam satu napas. Ritme pimpinan dan barisan harus seiring jalan. Jika masih ditemukan ego sektoral, tidak ada jalan lain kecuali penertiban barisan.

Untuk perguruan tinggi, Grastipol menjadi episentrum narasi aksi. Kampus bukan sekadar penonton di tepi lapangan. Ia mitra strategis sekaligus pelaksana program pembangunan. Diperlukan sinergi yang lebih proaktif agar proses administratif beasiswa tak mengalami hambatan. Jangan sampai kampus justru melempar bola ke publik yang memicu kegaduhan kontraproduktif.

Evaluasi ini juga berlaku bagi insan pers. Media punya fungsi memberikan informasi akurat dan menjadi kontrol sosial yang sehat. Sangat tidak sehat jika media menyajikan berita sepihak. Ingat, peran pers adalah menyajikan informasi, bukan bahan bakar polarisasi. Dan bagi para politisi, ini pelajaran moral: jangan gunakan masyarakat sebagai alat atau tameng. Jika ada hal yang perlu dikritisi, sampaikan dalam ruang perundingan yang beradab. Berhenti mengais keuntungan dalam peperangan narasi. Publik butuh hasil kerja nyata, bukan kegaduhan retoris.

Mari kita jaga Bumi Etam agar tetap tenang, kritis, dan produktif. Mari kita kembali bekerja, dan biarkan hasil nyata yang berbicara pada waktunya.

Hidup mahasiswa! Tetaplah jadi generasi kritis yang beradab dan bermartabat!. (*)

Bagikan:

Ketua IKAT Kaltim Imbau Warga Toraja Jaga Kondusivitas Daerah: Dukung Pemerintah yang Sah