Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Erau di IKN menjadi wacana yang diluruskan Bupati Aulia Rahman Basri. Ia menegaskan rencana tersebut bukan berarti memindahkan pelaksanaan Erau Adat Kutai dari Tenggarong ke Ibu Kota Nusantara.
Penegasan itu disampaikan Aulia menyusul pernyataan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono pada Minggu (27/9/2026). Basuki menyebut permintaan Sultan agar pada tahun-tahun mendatang digelar semacam Erau di IKN.
Atas dasar itu, Aulia pun meminta agar masyarakat perlu memahami bahwa Erau dapat dilaksanakan di sejumlah daerah yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Erau itu artinya pesta, riuh. Terlebih, Erau hari ini dilaksanakan di beberapa titik,” bebernya di DPRD Kukar, Senin (28/9/2026).
Beberapa titik yang dimaksud Aulia adalah Kabupaten Kutai Timur yang rencananya akan melaksanakan Erau pada tanggal 12 Oktober. Menurutnya, pelaksanaan di berbagai daerah tersebut tidak mengubah kedudukan Erau Adat Kutai yang selama ini menjadi agenda tahunan di Kota Raja.
Apabila Erau nantinya dilaksanakan di IKN, ia pun menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Erau di daerah-daerah yang menjadi bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Bukan memindahkan Erau yang ada di Tenggarong hari ini ke IKN. Nah, ini yang harus dipahami oleh seluruh pihak,” tegasnya.
Menurut Aulia, Erau Adat Kutai memiliki kedudukan tersendiri dan tetap dilaksanakan di Tenggarong setiap tahun. Pelaksanaannya pada 2026 berlangsung selama sepekan, mulai 20 hingga 27 September.
“Erau Adat Kutai adanya di Tenggarong. Itu yang harus kita pahami,” ujarnya.
Penjelasan tersebut penting agar wacana pelaksanaan Erau di IKN tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Terutama anggapan bahwa jika IKN nantinya menggelar Erau, maka pelaksanaan Erau Adat Kutai di Tenggarong akan dihentikan atau dipindahkan.
“Mungkin ini yang harus kita sampaikan kepada seluruh warga masyarakat biar tidak terjadi kesalahpahaman,” jelas Aulia.
Ia menyebut, Erau-Erau yang dilaksanakan di daerah lain sebenarnya dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap tradisi Kutai sekaligus momentum untuk mengambil hikmah dari nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan Erau.
“Erau itu bentuk penghargaan, dan bentuk mengambil hikmah daripada Erau itu sendiri,” tutupnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










