Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Pemilihan warna hijau dan kuning pada maskot Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) XLVI tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 bukan sekadar memperindah tampilan. Kedua warna tersebut memiliki makna filosofis yang erat dengan tradisi dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara.
Warna hijau dan kuning dikenal sebagai warna yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat Kutai. Keduanya merepresentasikan identitas daerah yang ingin ditampilkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai tuan rumah MTQH yang dijadwalkan berlangsung pada 3–11 Desember 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono Kasnu, menjelaskan bahwa warna hijau ini melambangkan kesejukan, kedamaian, serta nuansa agamis. Sementara warna kuning menjadi simbol kejayaan dan kemakmuran yang melekat dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara.
“Kalau di Kukar itu termasuk warna sakral, hijau dan kuning. Itu warna kejayaan dan warna kemakmuran,” ungkap Sunggono saat memaparkan filosofi maskot MTQH XLVI di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Selasa (3/11/2026).
Filosofi tersebut juga dituangkan melalui dua karakter anak laki-laki dan perempuan bernama Kadeka dan Kadeki. Keduanya menjadi representasi masyarakat Kutai Kartanegara dalam mendukung gerakan memasyarakatkan Alquran melalui Gerakan Etam Mengaji (GEMA).
Identitas budaya lokal juga diperlihatkan melalui pakaian yang dikenakan kedua karakter. Kadeka dan Kadeki menggunakan baju Miskat, pakaian khas Melayu Kutai yang ditetapkan sebagai salah satu busana resmi bagi pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Kukar setiap Kamis.
Selain pakaian, terdapat aksesori yang memperkuat identitas masing-masing karakter. Kadeki mengenakan kalung bertuliskan namanya, sedangkan Kadeka menampilkan identitas pada bagian topi.
Unsur lainnya terlihat pada tulisan KD’Q di bagian tengah maskot. Tulisan tersebut yang merupakan singkatan dari Keroan Dengsanak Qur’ani.
Dalam bahasa Kutai, Keroan Dengsanak berarti sekumpulan saudara atau kerabat. Filosofinya menggambarkan perkumpulan orang-orang yang menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, latar belakang daripada maskot menampilkan Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin di Tenggarong. Masjid bersejarah tersebut pun turut menjadi salah satu simbol perkembangan Islam di Kutai Kartanegara.
Perpaduan unsur budaya, sejarah, dan keagamaan tersebut menjadikan maskot MTQH XLVI tidak hanya sebagai identitas penyelenggaraan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan kekhasan Kutai Kartanegara kepada masyarakat Kalimantan Timur.
Melalui Kadeka dan Kadeki, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar berupaya ingin menghadirkan pesan bahwa pelaksanaan MTQH tidak hanya berkaitan dengan perlombaan membaca Alquran dan hadis, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai Alquran.
“Ini makna filosofinya dari Kadeka dan Kadeki,” tandasnya.(Adv/Diskominfo Kukar/cc)










