Samarinda, Sketsa.id – Di tengah hiruk-pikuk kota Samarinda yang tak pernah tidur, ada kisah perjuangan seorang anak muda yang jarang mendapat sorotan. Mathia Rahmadani Pratama, akrab disapa Dani, baru genap 22 tahun. Namun usianya tak sebanding dengan beban yang ia pikul.
Dani bekerja siang hingga malam demi menghidupi ibu yang terbaring sakit stroke serta dua adiknya yang putus sekolah karena himpitan ekonomi.
“Dari saya kecil itu saya ikut mama. Mama yang besarin saya. Dulu kerjaannya mulung buat biaya sekolah saya,” ujar Dani saat ditemui media.
Orang tuanya sempat berpisah ketika ia masih kecil. Ia tumbuh bersama sang ibu, Suheti (45), yang bekerja sebagai pemulung. Suatu ketika, orang tuanya kembali rujuk. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sang ayah meninggal dunia saat Dani masih duduk di bangku SMK, tepat di masa pandemi Covid-19.
“Waktu saya lulus sekolah, mama berhenti jadi pemulung. Saya yang kerja,” kenangnya.
Demi menghidupi keluarganya, Dani bekerja di sebuah warung makan yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Bahkan ia sempat merangkap di dua tempat berbeda. Pagi hingga malam di satu tempat, lalu lanjut bekerja lagi hingga dini hari. Semua dijalaninya dengan berjalan kaki dari rumah di Jalan Biawan ke tempat kerja di Jalan Siradj Salman, sekira 4 kilometer.
“Pulang jam dua malam. Berangkat jalan kaki, pulangnya juga jalan kaki. Setiap hari begitu,” ceritanya.
Tahun lalu, hidup Dani kembali diuji. Sang ibu tiba-tiba jatuh sakit. Suatu pagi, Suheti mengeluh separuh tubuh kirinya tak bisa digerakkan. Ia sempat dirawat di klinik selama tiga hari, namun kondisinya memburuk hingga mengalami stroke total. Kini, sang ibu menghabiskan waktu di atas tempat tidur.
“Alhamdulillah masih bisa senyum, ketawa. Kalau diajak interaksi masih bisa respons,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam keterbatasan, keluarga ini membagi tugas. Dani mencari nafkah. Adiknya yang berusia 18 tahun merawat sang ibu di rumah. Adik bungsunya yang baru 12 tahun ikut membantu sebagai pemulung, mencari barang bekas untuk dijual. Kedua adiknya terpaksa berhenti sekolah. Yang kedua berhenti saat kelas lima, si bungsu berhenti ketika kelas dua SD.
Dani pernah jatuh sakit akibat kelelahan bekerja tanpa henti. Seorang tetangga pun mengingatkannya untuk tidak memikul semuanya sendiri. Sejak itu, Dani melepas salah satu pekerjaannya agar kondisinya tetap kuat menopang keluarga.
“Kalau saya enggak kerja keras, mereka enggak bisa makan,” ucapnya bergetar.
Beberapa kali Dani terdiam saat bercerita. Seolah sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan semua yang telah dilalui keluarganya. “Berat,” katanya singkat.
Meski demikian, ia masih menyimpan harapan. Ia berharap ibunya bisa pulih dan kedua adiknya dapat kembali mengenyam pendidikan.
“Saya harap ada perubahan ke depannya. Adik-adik saya bisa sekolah lagi supaya masa depan mereka terjamin,” tutupnya. (*)









