Rubel Makin Perkasa di Tengah Sanksi, Kini Jadi Mata Uang Terbaik di Dunia

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:47 WITA
Bagikan:
Foto :ilustrasi (ist)

Jakarta, Sketsa.id – Mata uang Rusia, rubel, kembali mencengangkan dunia. Di tengah rentetan sanksi ekonomi dari negara-negara Barat dan membengkaknya biaya perang di Ukraina, rubel justru menunjukkan performa terbaik di dunia terhadap Dolar Amerika Serikat pada kuartal kedua 2026.

Laporan terbaru dari Bloomberg mengungkapkan, rubel telah melesat tajam sekitar 12 persen sejak awal April, merangkak naik ke level 72,6 per Dolar AS. Ini merupakan posisi terkuat rubel sejak Februari 2023, sekaligus mematahkan prediksi para analis Barat yang berulang kali meramalkan mata uang Rusia akan segera runtuh.

Berkah Terselubung dari Konflik Timur Tengah

Mengapa rubel justru semakin perkasa saat Rusia dikepung sanksi? Jawabannya terletak pada berkah terselubung dari konflik di Timur Tengah. Perang AS-Israel melawan Iran telah melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz, memicu kelangkaan energi global dan lonjakan harga minyak dunia.

Untuk meredam inflasi di dalam negerinya sendiri, Washington terpaksa mengeluarkan kebijakan pelonggaran sanksi (waiver) khusus untuk minyak Rusia agar pasokan global tetap terjaga. Pelonggaran ini menjadi keran emas bagi Kremlin. Rusia mendapatkan rezeki nomplok dari ekspor.

Penjualan mata uang asing bersih oleh eksportir terbesar Rusia melonjak tiga kali lipat menjadi USD7,3 miliar pada April berkat meroketnya harga minyak mentah Rusia jenis Urals. Selain itu, dedolarisasi semakin nyata. Hampir 60 persen aktivitas impor Rusia kini diselesaikan menggunakan rubel, bukan lagi Dolar AS atau Euro.

Kebijakan suku bunga domestik yang tinggi juga membuat warga dan korporasi Rusia enggan memburu Dolar AS. Dana segar berputar dan menumpuk di dalam sistem finansial Rusia sendiri, alih-alih dilarikan ke luar negeri.

Rubel Terlalu Perkasa, Menteri dan Bos Bank Justru Pusing

Secara psikologis, mata uang yang menguat tajam biasanya disambut bahagia. Namun di Rusia, fenomena ini justru melahirkan kecemasan baru. Menteri Ekonomi Rusia, Maksim Reshetnikov, mengakui bahwa rubel saat ini bergerak “lebih kuat daripada yang diinginkan oleh banyak pihak.”

Mengapa demikian? Rusia adalah negara berbasis ekspor komoditas. Ketika rubel terlalu kuat, nilai konversi pendapatan dari penjualan minyak internasional ke dalam kas APBN Rusia justru menyusut. Kondisi ini juga membuat eksportir non-migas menjerit. Wakil Perdana Menteri Pertama, Denis Manturov, memperingatkan bahwa penguatan rubel yang terlalu ekstrem mulai memukul daya saing produk ekspor non-energi Rusia di pasar internasional.

Meski demikian, CEO Sberbank, bank terbesar di Rusia, Herman Gref, menilai bahwa level 72 rubel per Dolar AS adalah titik keseimbangan baru yang mencerminkan realitas model ekonomi Rusia saat ini. (*)

Bagikan:

DRUPADI Baladika Kaltim Gelar Aksi Damai Bagi Bunga Mawar di Tengah Gelombang Demo