Waspada Hantavirus: Dinkes Kaltim Imbau Jaga Kebersihan Lingkungan dari Tikus

Jumat, 15 Mei 2026 - 06:50 WITA
Bagikan:
Foto : ilustrasi bentuk virus. (Ist )

Samarinda, Sketsa.id – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis, termasuk Hantavirus yang belakangan menjadi perhatian dunia setelah muncul klaster di kapal pesiar MV Hondius. Meski belum ada laporan kasus positif di Kaltim, kewaspadaan dini tetap diperlukan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, dr. Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa virus Hanta ditularkan melalui urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan terjadi ketika manusia menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus.

“Kami sudah membuat surat edaran untuk seluruh provinsi agar waspada. Virus ini terkait dengan tikus. Kami mohon masyarakat menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkumpulnya tikus,” ujar Jaya dalam wawancara di Samarinda, Selasa (12/5/2026).

“Kalau misalnya terkena banjir, tikus banyak dan kencingnya di mana-mana. Kita bisa tidak sengaja memegang, maka harus cuci tangan pakai sabun,” tambahnya.

Bukan Penyakit Baru di Indonesia

Seperti yang kita ketahui, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa varian Hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar luar negeri berbeda dengan varian yang ada di Indonesia .

“Ini virusnya beda dengan COVID. Ini sudah lama ada. Sejak tahun 2000-an di Indonesia sudah teridentifikasi,” kata Budi di Jakarta, Selasa (12/5/2026) .

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menambahkan bahwa kasus pada kapal pesiar MV Hondius merupakan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) strain Andes yang memiliki tingkat fatalitas tinggi hingga 40-50 persen .

Sementara di Indonesia, kasus yang pernah ditemukan merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus yang tingkat kematiannya jauh lebih rendah, yakni 5-15 persen untuk tipe Hantaan dan di bawah 1 persen untuk tipe Puumala .

“Untuk Indonesia, sejak 2024 hingga 2026 tercatat 23 kasus HFRS tanpa temuan HPS,” ujar Andi.

Gejala dan Penanganan

Jaya menjelaskan bahwa gejala awal Hantavirus hampir sama dengan penyakit lain, diawali demam dan tidak enak di tenggorokan.

“Sejauh ini tidak ada yang dilaporkan di Kalimantan Timur. Kami melakukan upaya SKD (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) setiap minggu, kami laporkan ke Kementerian,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penularan Hantavirus dari manusia ke manusia di Indonesia. Penularan hanya terjadi dari tikus ke manusia .

“Kecuali kalau nularnya antar manusia bisa lewat batuk, itu belum. Ini dari tikusnya,” tegas Jaya.

Untuk pengobatan, belum ada obat yang spesifik. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, seperti pemberian infus agar tidak kekurangan cairan, serta obat penurun panas jika pasien demam.

“Yang penting kekuatan kekebalan tubuh kita. Jangan sampai terjadi komplikasi, komplikasinya di ginjal dan di jantung,” ungkapnya.

Pencegahan dan Imbauan

Jaya mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Menutup makanan agar tidak diakses tikus
  2. Membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus
  3. Mencuci tangan setelah beraktivitas di area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus
  4. Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang didatangi tikus
  5. Menghindari kontak langsung dengan tikus, termasuk hewan pengerat lain seperti hamster (meski belum ada informasi penularan)

“Yg paling penting menjaga lingkungan. Jangan sampai ada virus lalu lalang. Lingkungan kita terhadap penyakit zoonosis itu bisa kita cegah,” pungkas Jaya.

Dinkes Kaltim juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dalam melakukan pemantauan dan pelaporan mingguan terkait potensi penyakit menular. (cc)

Bagikan:

Ketua IKAT Kaltim Imbau Warga Toraja Jaga Kondusivitas Daerah: Dukung Pemerintah yang Sah