Jakarta, Sketsa.id – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyesalkan kebijakan Pertamina Patra Niaga yang menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter secara mendadak pada 10 Juni 2026. Kenaikan sebesar Rp3.950 atau sekitar 32 persen ini dinilai tidak disertai transparansi dan pemberitahuan yang memadai kepada masyarakat. Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo, menyatakan bahwa sebagai produk yang digunakan secara luas dan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga, perubahan harga seharusnya diumumkan lebih awal agar konsumen punya waktu menyesuaikan diri.
“YLKI menyesalkan pengumuman kenaikan harga yang dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahuan yang memadai. Perubahan harga seharusnya disampaikan lebih transparan dan memberikan waktu cukup bagi konsumen,” ujar Rio dalam siaran pers, Jumat (12/6/2026).
YLKI juga mendesak Pertamina dan pemerintah membuka secara rinci formula dan komponen pembentuk harga Pertamax, sehingga konsumen bisa memahami alasan di balik kebijakan ini. “Konsumen berhak tahu, jangan hanya disuruh menerima kenaikan tanpa penjelasan yang jernih,” tegasnya.
YLKI Soroti Potensi Migrasi ke BBM Subsidi, Antisipasi Antrean Panjang dan Kelangkaan
YLKI juga memperingatkan potensi migrasi konsumen Pertamax ke Pertalite yang masih dibanderol Rp10.000 per liter. Kondisi ini, menurut Rio, harus diantisipasi serius oleh Pertamina dan pemerintah agar tidak terjadi lonjakan permintaan yang berujung pada antrean panjang, pembatasan distribusi, hingga kelangkaan BBM di sejumlah wilayah. “Jangan sampai masyarakat yang memang berhak menerima BBM subsidi justru menjadi pihak yang paling dirugikan akibat kelangkaan,” ujarnya.
Selain itu, YLKI menekankan dampak kenaikan ini terhadap daya beli masyarakat kelas menengah yang tidak menikmati subsidi namun harus menanggung kenaikan biaya energi. Kenaikan harga BBM juga berpotensi memicu inflasi karena efek berantai ke biaya transportasi dan distribusi barang.
“Pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi dan menjaga stabilitas pasokan serta harga BBM yang menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat,” tambah Rio.
Pertamina Patra Niaga: Penyesuaian Harga Lewat Evaluasi Berkala dan Koordinasi Pemerintah
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax merupakan hasil evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian. Keputusan ini, menurutnya, telah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator.
“Penyesuaian harga Pertamax dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Ini bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat,” ujar Roberth.
Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Pertamax tetap aman dan tersedia di jaringan SPBU. Harga Pertalite dan Biosolar sebagai BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter. Sementara Pertamax Turbo tetap di Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. Masyarakat dapat mengakses informasi harga terbaru melalui kanal resmi Pertamina, aplikasi MyPertamina, atau menghubungi Contact Center 135.
YLKI Dorong Evaluasi Tata Kelola Komunikasi Publik
YLKI juga mendorong evaluasi tata kelola komunikasi publik terkait perubahan harga barang dan jasa strategis. “Peristiwa ini menunjukkan perlunya standar pemberitahuan yang lebih transparan dan terukur untuk setiap penyesuaian harga yang berdampak luas terhadap masyarakat, sehingga hak konsumen atas informasi dapat terlindungi dengan lebih baik,” pungkas Rio. (cc)









