Internasional, Sketsa.id – Di tengah eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran, Selat Hormuz—jalur vital untuk 20% pasokan minyak dunia—kini menjadi pusat krisis global. Pada 2 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan selat dan mengancam akan menyerang serta membakar kapal apa pun yang mencoba melintas. Ancaman ini memicu penghentian lalu lintas pengiriman, dengan ratusan tanker terjebak selama lima hari berturut-turut, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran kekurangan energi.
Menurut laporan Reuters, pada 4 Maret, serangan kapal selam AS terhadap kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka memperburuk situasi, menyebabkan lalu lintas di selat hampir lumpuh total. Kapal kontainer berbendera Malta, Safeen Prestige, bahkan rusak akibat proyektil saat mendekati ujung utara selat, memaksa kru meninggalkan kapal. Perusahaan pelayaran raksasa seperti Maersk, MSC, dan Hapag-Lloyd langsung menghentikan operasi di selat, mengalihkan rute ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang menambah waktu dan biaya.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak Brent melonjak 10-13% dalam perdagangan awal, dengan prediksi bisa mencapai $100 per barel jika gangguan berlanjut. Di AS, harga bensin naik signifikan, salah satu kenaikan terbesar dalam beberapa tahun, karena lalu lintas tanker turun hampir 90% dibanding pekan sebelumnya. Bloomberg melaporkan bahwa setidaknya 150 tanker terjebak di luar selat, menghentikan aliran minyak dan gas dari Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump merespons dengan menjanjikan asuransi dan pengawalan angkatan laut untuk kapal yang mengekspor minyak dari kawasan itu. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan pemerintah sedang menyusun rencana untuk mengamankan selat. Namun, analis dari CSIS memperingatkan bahwa meski militer Iran melemah, mereka masih mampu merusak lalu lintas di selat.
Krisis ini dimulai dari serangan udara AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, yang memicu balasan dari Teheran. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, adalah titik sempit strategis di mana 21 juta barel minyak lewat setiap hari. Penutupan ini bukan yang pertama; Iran pernah mengancam hal serupa pada 2019 dan 2020, tapi kali ini ancaman diikuti tindakan nyata, termasuk ledakan di dekat pintu keluar selat seperti dilaporkan Sky News.
Bagi Asia, dampaknya berat. Ekonomi seperti China, Jepang, dan India bergantung pada minyak Teluk, dan penundaan pengiriman bisa memicu inflasi. Seatrade Maritime memprediksi kerugian besar bagi perdagangan Asia-Teluk jika krisis berlarut.
Situasi ini terus dipantau, dengan harapan diplomasi bisa membuka selat kembali. Namun, tanpa resolusi cepat, dunia bisa menghadapi krisis energi terburuk sejak 1970-an. (cc)










