Jakarta, Sketsa.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat untuk mematikan kompor segera setelah masakan matang. Ajakan sederhana ini disampaikan dalam konferensi pers di Colomadu, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026), sebagai bagian dari upaya menjaga stok LPG nasional.
“Kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros,” ujar Bahlil dalam keterangan yang dikutip dari siaran resmi Kementerian ESDM.
Pernyataan yang tergolong sederhana ini sontak menuai beragam reaksi di ruang publik. Di tengah kekhawatiran akan krisis energi global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, sebagian kalangan menilai imbauan tersebut terlalu sempit dan tak menyentuh akar persoalan. Yang lain justru menganggapnya sebagai pengingat penting akan kebiasaan kecil yang kerap dilupakan, namun berdampak besar jika dilakukan bersama-sama.
Pernyataan Bahlil datang di saat publik tengah sensitif terhadap isu energi. Harga BBM dan LPG mengalami fluktuasi seiring dengan eskalasi konflik Iran-AS yang mengganggu rantai pasok global. Pemerintah sendiri sebelumnya telah mengisyaratkan kemungkinan adanya kebijakan penghematan lebih lanjut, termasuk wacana penerapan work from home (WFH) untuk mengurangi konsumsi BBM. Namun, ketika Bahlil membawa pembahasan ke ranah dapur rumahan, sebagian warganet merasa bahwa persoalan energi yang kompleks disederhanakan secara berlebihan.
“Jadi solusi krisis energi cuma matiin kompor?” tulis seorang pengguna media sosial menanggapi pernyataan tersebut. Di sisi lain, ada juga yang membela. Bagi mereka, imbauan ini bukan soal besar-kecilnya masalah, tapi tentang perubahan budaya dan kesadaran kolektif. Memang, sepele. Tapi membiarkan api kompor menyala tanpa guna adalah bentuk pemborosan yang tak perlu terjadi.
Ironisnya, di waktu yang sama, Bahlil juga menyampaikan bahwa stok LPG dan BBM nasional dalam kondisi aman. Bahkan, pemerintah menjamin pasokan energi selama Ramadan dan arus mudik Lebaran akan terpenuhi. LPG tambahan diklaim akan masuk sebelum hari raya, dan cadangan batu bara untuk PLN disebut mencukupi hingga 14-15 hari. “Ketersediaan BBM, LPG, listrik untuk Indonesia semuanya terkendali,” tegasnya.
Pertanyaannya, jika stok aman, mengapa masyarakat perlu diimbau menghemat dari hal sekecil itu? Apakah ini sekadar pesan moral, atau ada kekhawatiran yang tak disampaikan secara gamblang?
Pernyataan Bahlil seolah menggambarkan dilema yang kerap dihadapi para pejabat publik di era media sosial. Di satu sisi, ia ingin merangkul masyarakat dengan ajakan sederhana yang mudah dipahami. Di sisi lain, ketika publik sedang cemas dengan isu besar, pesan yang terlalu kecil bisa terdengar seperti meremehkan. Ada yang menyebutnya sebagai bentuk komunikasi yang merakyat. Ada juga yang menganggapnya sebagai langkah yang kurang strategis. Namun satu hal yang menarik: dari sekian banyak komentar dan diskusi yang muncul, hampir tidak ada yang membantah kebenaran isi pesannya. Siapa pun tahu, membiarkan kompor menyala setelah masak adalah pemborosan. Dan pemborosan energi, sekecil apa pun, jika dilakukan jutaan orang setiap hari, bukan lagi urusan sepele.
Di balik kontroversi kecil ini, ada pesan yang mungkin luput dari perhatian: bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau stabilitas geopolitik, tapi juga oleh kesadaran kolektif. Bahlil mungkin sadar bahwa ia tak bisa mengubah harga minyak dunia. Ia tak bisa menghentikan konflik di Timur Tengah. Tapi ia bisa mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan apinya menyala tanpa guna. Dan itu, mungkin, adalah satu-satunya cara agar semua pihak merasa dilibatkan—bukan sekadar menjadi korban dari kebijakan yang tak bisa mereka kontrol.
“Yang penting kita bisa melakukan perencanaan yang baik, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Hal yang paling utama adalah memastikan stok selalu tersedia agar tidak terjadi kelangkaan di Indonesia,” pungkas Bahlil. Ajakan mematikan kompor setelah masak mungkin tidak akan mengubah nasib energi nasional secara signifikan. Tapi mungkin, yang ingin ditanamkan adalah budaya bahwa hemat energi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kerja bersama. Dan untuk itu, memulai dari dapur sendiri, tidak ada salahnya. (*)










