Lima Tahun Pasca Kudeta, Jenderal Min Aung Hlaing Kini Resmi Jadi Presiden

Sabtu, 4 April 2026 - 06:16 WITA
Bagikan:
Foto: Pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, resmi terpilih sebagai presiden Myanmar.(ist)

Yangon, Sketsa.id – Pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, resmi terpilih sebagai presiden Myanmar pada Jumat (3/4/2026). Jenderal berusia 69 tahun itu memenangkan suara dalam pemilihan di parlemen, mengantarkannya sebagai presiden ke-11 negara Asia Tenggara tersebut.

Stasiun televisi pemerintah MRTV melaporkan bahwa lebih dari setengah legislator di Union Parlemen, Ibu Kota Naypyidaw, memberikan suara untuk Min. Dari 584 anggota parlemen yang hadir, Min meraih 429 suara. Myanmar memiliki legislatif bikameral dengan total 664 kursi, yakni 440 di majelis rendah dan 224 di majelis tinggi.

Min menjabat sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar atau Tatmadaw dari 2011 hingga mengundurkan diri pada Maret 2026 untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Jabatannya digantikan oleh mantan kepala intelijen Ye Win Oo yang mengambil alih peran tersebut sejak awal pekan ini.

Dari Kudeta ke Kursi Presiden

Min secara efektif memerintah Myanmar sejak memimpin kudeta militer pada 2021 yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi. Pengambilalihan kekuasaan tersebut menyebabkan pembubaran partai Liga Nasional untuk Demokrasi sekaligus memicu perang saudara yang masih berlangsung hingga saat ini.

Setelah lima tahun kudeta, Min mengawasi proses pemilihan umum tiga tahap yang dimulai pada akhir Desember 2025, menghasilkan kemenangan bagi partai-partai pro-militer, termasuk Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan. Parlemen baru mengadakan sidang pertamanya pada 16 Maret.

Kecaman Internasional terhadap Penganiayaan Rohingya

Selama menjabat sebagai pemimpin militer, Myanmar menghadapi kecaman internasional atas penganiayaan terhadap minoritas Rohingya. Kampanye militer yang diluncurkan pada 2017 memaksa lebih dari 1 juta warga Muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangga Bangladesh.

Dengan terpilihnya Min sebagai presiden, Myanmar memasuki babak baru kepemimpinan di tengah tekanan internasional yang masih terus berlanjut terkait isu hak asasi manusia dan konflik internal yang belum juga usai.(*)

Bagikan:

Polresta Samarinda Bongkar 79 Kasus dalam 21 Hari: Ada Pembunuhan, Curanmor, hingga Cap Tikus 9,8 Ton