Samarinda, Sketsa.id – Seorang eks karyawan rumah sakit di Samarinda memilih merayakan Hari Buruh 1 Mei dengan cara yang pahit. Awaliyah, mantan Kepala Seksi Keuangan RS Siaga Al Munawwarah, harus menerima surat pemutusan hubungan kerja (PHK) tepat di hari yang seharusnya menjadi momentum perjuangan para pekerja.

Sejak pagi, awaliyah bersama keluarganya memasang police line di beberapa akses rumah sakit. Spanduk dan tulisan berisi kekecewaan pun menempel di dinding. Pihak manajemen dan pemilik rumah sakit merespons dengan melaporkan aksi tersebut ke polisi. Namun, alih-alih saling berhadapan, kedua belah pihak akhirnya duduk bersama dalam mediasi yang difasilitasi Polresta Samarinda pada Jumat (2/5/2026)sore.
SP3 di Tengah Proses dan Tuduhan Tanpa Bukti
Awaliyah mengaku sudah menerima SP1 dan SP2 dari pihak manajemen. Namun, sebelum ada SP3 dan tanpa proses evaluasi lebih lanjut, ia langsung menerima surat PHK yang dikirim melalui aplikasi pesan singkat. “Saya kaget. Bukti-bukti yang mereka tuduhkan soal penggelapan dan manipulasi laporan keuangan, setelah saya buktikan, ternyata bukan tulisan dan tanda tangan saya,” katanya dalam wawancara terpisah.
Ia juga menyesalkan fitnah yang menyebut keluarganya dan teman temannya makan di kantin rumah sakit dengan menggunakan uang perusahaan. “Sampai sekarang tidak ada bukti. Ini pencemaran nama baik. Saya juga tidak menyalahgunakan wewenang untuk memerintahkan staf bekerja lembur ekstrem tanpa kompensasi,” tegasnya.
Awaliyah merasa menjadi korban window dressing, sebuah praktik pembenahan laporan keuangan yang tidak melibatkan verifikasi independen. “Saya justru menemukan sendiri bukti manipulasi ruang perawatan dan kelangkaan alat medis, seperti ventilator, yang menyebabkan keponakan saya meninggal pada 2024 lantaran tidak mendapat penanganan maksimal,” ungkapnya.
Belum Ada Komentar dari Manajemen

Sementara itu, IPDA Mat Bahri selaku Pamapta Polresta Samarinda menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan sekitar pukul 13.30 Wita tentang penutupan akses rumah sakit. “Kami mencoba memediasi dua belah pihak secara kekeluargaan. Namun, sampai batas waktu tertentu, kedua pihak masih bersikukuh. Akhirnya kami bujuk untuk melanjutkan mediasi di Polresta. Alhamdulillah, mereka sepakat,” ujar IPDA Mat Bahri usai mencopot beberapa atribut di depan akses keluar masuk Rumah Sakit.
Hingga mediasi selesai, manajemen dan pemilik RS Siaga Al Munawwarah enggan memberikan komentar kepada awak media. Mereka memilih keluar melalui pintu samping. Namun, kondisi rumah sakit tetap berjalan normal, dengan pelayanan medis tidak terganggu. (cc)










