Samarinda, Sketsa.id – Satuan Reserse Kriminal Polresta Samarinda mengungkap 37 kasus kejahatan jalanan selama bulan Mei 2026. Dari jumlah tersebut, pencurian kendaraan bermotor (curanmor) menjadi yang tertinggi dengan 16 kasus, disusul pencurian biasa sebanyak 12 kasus, pencurian dengan pemberatan (curat) 6 kasus, dan pencurian dengan kekerasan (curas) 3 kasus.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, mengungkapkan bahwa 53 orang tersangka telah diamankan. Sebagian besar atau sekitar 90 persen pelaku memiliki motif ekonomi. “Kejahatan jalanan ini sangat meresahkan masyarakat. Kami berpandangan bahwa kejahatan konvensional harus menjadi atensi utama,” ujar Hendri dalam konferensi pers di Mapolresta Samarinda, Selasa (9/6/2026).
Modus Terbanyak: Barang Ditaruh Sembarangan dan Kunci Motor Tertinggal

Dari 37 kasus yang terungkap, modus yang paling banyak terjadi adalah barang yang ditaruh sembarangan sebanyak 7 kasus, diikuti kunci motor tertinggal sebanyak 6 kasus. “13 dari 37 kasus terjadi karena kelalaian masyarakat. Niat mungkin awalnya tidak ada, tapi karena kesempatan ada, akhirnya terjadi pencurian,” tegas Hendri.
Modus lainnya antara lain kendaraan tidak dikunci stang (5 kasus), merusak atau menggunakan kunci palsu (3 kasus), pencurian di rumah kosong (3 kasus), pencurian disertai kekerasan (3 kasus), serta mengganti barang dengan barang palsu, mengaku meminjam barang, dan menjadi kurir masing-masing 1 kasus.
Samarinda Kota Paling Rawan, Jam 12-18 Wita Jadi Waktu Terbanyak
Kecamatan Samarinda Kota menjadi wilayah dengan tingkat kejahatan tertinggi, yakni 11 kasus. Disusul Kecamatan Sungai Kunjang dan Samarinda Seberang masing-masing 6 kasus, serta Kecamatan Sungai Pinang sebanyak 4 kasus. “Ini menjadi PR bagi kami untuk menciptakan situasi aman dan kondusif di seluruh 10 kecamatan,” ujar Hendri.
Yang menarik, waktu terbanyak kejahatan terjadi justru pada siang hari, yakni pukul 12.00 hingga 18.00 Wita dengan 13 kejadian. Disusul dini hari pukul 00.00 hingga 06.00 sebanyak 11 kejadian, dan malam hari pukul 18.00 hingga 24.00 sebanyak 9 kejadian. “Pelaku tidak hanya berani di malam hari. Mungkin saat masyarakat pulang kerja atau anak-anak pulang sekolah sehingga kewaspadaan menurun,” jelasnya. (cc)









