Viral! Video Ajudan Gubernur Kaltim Senggol Mahasiswa GMNI di Plataran Masjid, Identitas Terbongkar

Selasa, 20 Oktober 2026 - 03:27 WITA
Bagikan:
Foto : Tangkapan layar video viral ajudan Gubernur Kaltim senggol mahasiswi GMNI.

Samarinda, Sketsa.id – Jagat maya kembali dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan seorang ajudan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) bersikap kasar terhadap mahasiswa. Insiden itu terjadi saat Gubernur Rudy Mas’ud hendak menunaikan salat magrib di Masjid Nurul Mu’minin, kompleks perkantoran Pemprov Kaltim, Samarinda, Senin (19/10/2026).

Peristiwa bermula ketika massa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda masih berada di sekitar masjid setelah menggelar aksi demonstrasi sejak pukul 14.00 WITA. Aksi itu menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari evaluasi kepemimpinan hingga desakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Saat Gubernur Rudy tiba dengan pengawalan dua ajudan, mahasiswa langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Mereka mempertanyakan alasan gubernur tidak menemui massa selama aksi berlangsung.

“Bapak tadi kenapa tidak mau menemui kami?” tanya seorang mahasiswa, seperti dikutip dari video yang beredar. Rudy pun menjawab singkat, “Maaf ya, tadi ada acara PGRI.”

Di tengah percakapan singkat itu, seorang ajudan berbaju putih tiba-tiba bergerak ke arah barisan mahasiswa. Ia terlihat menyenggol tubuh seorang mahasiswi hingga terdorong dan telepon selulernya jatuh ke lantai. Tindakan itu tidak berhenti di satu orang, ajudan tersebut juga melakukan hal serupa kepada mahasiswa lain.

Insiden spontan itu memicu kericuhan kecil. Sejumlah mahasiswa yang tidak terima langsung mengejar ajudan tersebut. Rekaman peristiwa itu dengan cepat menyebar di media sosial, termasuk diunggah ulang oleh akun Instagram @koalisi.indonesia.maju dan @bukan_fufufafa_.

Identitas Ajudan dan Kecaman Publik

Warganet tidak tinggal diam. Identitas ajudan itu dengan cepat terungkap dan menjadi perbincangan hangat. Ia disebut bernama Asky Rizal Toding, seorang anggota kepolisian aktif yang bertugas di Polda Kaltim dengan pangkat Brigadir Polisi Satu (Briptu).

Akun Instagram yang dikaitkan dengannya dibanjiri komentar pedas. Namun, hingga berita ini ditayangkan, akun tersebut dilaporkan telah menghilang atau tidak dapat diakses. Belum ada pernyataan resmi dari Pemprov Kaltim maupun dari Briptu Asky terkait insiden tersebut.

Insiden ini menuai kecaman luas. Publik menilai tindakan ajudan tersebut arogan dan berlebihan, terutama karena terjadi di pelataran masjid dan saat mahasiswa tengah menyampaikan aspirasi secara damai.

Respons fisik dalam pengawalan pejabat dinilai tidak proporsional. Dalam konteks demokrasi, penyampaian pendapat di muka umum seharusnya dihadapi dengan komunikasi, bukan tindakan yang justru memicu ketegangan di tengah masyarakat. (*)

Bagikan:

Gaji PPPK Bakal Ditanggung APBN, Kukar Akan Siapkan Pengalihan Anggaran untuk Sekolah