Aulia Kaitkan Mars Kukar dengan Semangat Persatuan di HUT ke-244 Kota Raja

Senin, 28 September 2026 - 14:39 WITA
Bagikan:
Foto : Bupati Aulia: Erau dan Hari Jadi Tenggarong satu kesatuan sejarah. Tema: Raja Menjamu Rakyatnya.

Tenggarong, Sketsa.id – Bupati Aulia Rahman Basri mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah menjaga kekompakan dalam membangun Kutai Kartanegara (Kukar), terutama di tengah tantangan pembangunan dan ruang fiskal yang semakin membutuhkan kehati-hatian.

Menurut Aulia, pesan tentang pentingnya persatuan tersebut juga tercermin dalam Mars Kutai Kartanegara yang diciptakan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Sultan Adji Muhammad Arifin.

Mars Kukar yang selama ini dinyanyikan dalam berbagai kegiatan daerah kata dia, tidak hanya menjadi bagian dari identitas daerah, tetapi juga mengandung pesan agar masyarakat Kukar tetap kompak dan tidak terpecah dalam menjalankan pembangunan.

baca juga : Aulia-Rendi Ziarah Makam Raja, Kenang Fondasi Tenggarong Sebelum Indonesia Berdiri

“Kalau Kutai Kartanegara mau jagau kita harus kompak, kita tidak boleh terpecah belah,” ungkapnya saat menghadiri Paripurna DPRD Kukar terkait Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Aulia menilai semangat kekompakan tersebut penting karena pembangunan Kabupaten Kukar tidak dapat dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri. Dibutuhkan kesamaan arah dan langkah dari seluruh elemen agar pembangunan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan perjalanan sejarah Kota Tenggarong yang telah berkembang selama 244 tahun. Menurutnya, sejarah Tenggarong memberikan pelajaran bahwa pembangunan membutuhkan kebersamaan dan kesinambungan.

“Kita tidak akan bisa membangun kota ini dengan baik. Tidak akan bisa membangun Kabupaten Kutai Kartanegara ini dengan baik kalau kita semua tidak kompak. Kalau kita semua tidak dalam satu barisan. Kalau kita semua tidak dalam satu irama,” tuturnya.

Dikatakan Aulia, perbedaan dalam proses pembangunan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk memecah langkah pembangunan daerah.

“Perbedaan itu pasti ada, akan tetapi perbedaan bukan untuk memecah langkah gerak kita. Perbedaan untuk kita diskusikan, untuk kita bicarakan, kita cari jalan temunya,” ujarnya.

Pesan kekompakan itu, kata Aulia, semakin penting ketika pemerintah daerah menghadapi kondisi ruang fiskal yang membutuhkan kehati-hatian.

Efisiensi anggaran membuat pemerintah harus lebih selektif dalam menentukan program dan prioritas pembangunan.

Namun, ia menegaskan efisiensi tidak boleh dimaknai sebagai berkurangnya semangat untuk membangun Kukar.

“Efisiensi anggaran bukan berarti efisiensi semangat pembangunan membangun Kabupaten Kukar,” tegas Aulia.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menyatukan langkah agar keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah dapat disikapi melalui kerja bersama.

“Ketika kita sudah kompak, kita bergerak bersama dan insyaallah kita akan memberikan dampak yang sebesar-besarnya untuk warga masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara,” tutupnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)

Bagikan:

Padi Mulai Tumbuh, Bupati Kukar Ungkap Tradisi Unik Bertani Warga Danau Semayang