Samarinda, Sketsa.id – Unjuk rasa yang digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Kalimantan Timur di depan Kantor Gubernur Kaltim, pada Selasa (5/5/2026) sore, berakhir ricuh. Bentrok antara massa dan aparat kepolisian tak terhindarkan menjelang malam, menyebabkan korban luka dari kedua belah pihak.
Aksi yang sedianya berlangsung damai itu mulai memanas sekitar pukul 17.45 Wita. Saling lempar botol air dan benda keras terjadi di lokasi, membuat suasana di sekitar Jalan Gadjah Mada, Samarinda, menjadi mencekam.

Ketua Umum PKC PMII Kalimantan Timur, Muhammad Said Abdillah, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan respons atas pernyataan Gubernur Kaltim beberapa waktu lalu yang menyebut kantor gubernur terbuka 24 jam untuk masyarakat.
“Jadi tujuan demo hari ini memenuhi panggilan Pak Gubernur. Beliau pernah bilang kantor gubernur terbuka 24 jam. Kami datang untuk bersilaturahim dan menyampaikan aspirasi yang sudah dikaji,” ujar Said di lokasi aksi.
Ia menjelaskan, pihaknya membawa setidaknya tujuh tuntutan utama. Mulai dari penghentian alokasi anggaran di luar kewenangan provinsi, pencopotan Ketua DPRD Kaltim yang merupakan adik kandung gubernur, percepatan pengangkatan pejabat definitif di 13 OPD, hingga perampingan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP).
“Kami juga mendesak gubernur agar tidak menggelar kegiatan pemerintahan di tempat komersial seperti Harum Resort yang terindikasi miliknya sendiri. Itu tidak sesuai dengan semangat efisiensi dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2025,” tegas Said.
Sorotan lain yang paling menyita perhatian publik adalah soal transparansi pengembalian mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar.
“Mobil itu lengkap dengan akuarium dan kursi pijat. Kami minta transparansi. Jangan omong-omon saja. Publik butuh tahu prosesnya sudah sejauh apa,” ujarnya.
Selain itu, PMII Kaltim juga menolak penetapan direksi dan komisaris Bank Kaltimtara yang dinilai memiliki rekam jejak bermasalah, termasuk pernah diperiksa dalam kasus dugaan manipulasi RUPS dan kredit macet.
“Publik berhak menguji apakah proses seleksi dilakukan secara substantif atau hanya formalitas belaka. Bank daerah bukan milik kelompok tertentu, tapi mengelola uang rakyat,” tambah Said.
Namun, di tengah penyampaian aspirasi, ketegangan tak terhindarkan. Said menduga gesekan terjadi karena kondisi massa yang sudah kelelahan setelah berjam-jam berdemonstrasi, ditambah adanya lemparan dari salah satu pihak yang tidak diinginkan.
Akibat kericuhan tersebut, empat kader PMII dilaporkan mengalami luka-luka. Bahkan satu orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi luka parah di bagian kepala.
“Kepalanya bocor, sampai tujuh jahitan. Tiga orang lainnya pingsan,” ungkap Said dengan nada prihatin.
Rencana untuk menggelar mimbar bebas pun terpaksa dibatalkan. Massa memilih mengakhiri aksi dengan membacakan pernyataan sikap, mengingat situasi yang semakin tidak kondusif.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasi (Kabagops) Polresta Samarinda, Kompol Zarma Putra, membenarkan adanya insiden saling lempar antara aparat dan massa aksi. Pihaknya mengerahkan sekitar 400 personel gabungan untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
“Iya, tadi ada insiden yang tidak diinginkan ada yang lempar batu,” ujar Zarma.
Ia merinci, dari pihak kepolisian, terdapat lima personel yang mengalami luka. Seorang polwan bahkan sempat pingsan setelah terkena lemparan benda keras.
“Tiga personel kami sempat ditarik massa. Ada juga yang luka di bagian bibir dan kepala. Polwan satu orang sempat pingsan,” jelasnya.
Selain itu, satu personel dari bidang humas yang tengah bertugas dengan pakaian biasa pun juga menjadi korban. Anggota tersebut mengalami luka robek di bagian jidat akibat terkena lemparan batu.
Meski demikian, Zarma memastikan bahwa seluruh korban dari pihak kepolisian telah mendapatkan perawatan medis.
“Tidak ada yang luka parah. Rata-rata luka robek akibat benda keras,” tutupnya.
Hingga pukul 18.30 Wita, suasana di sekitar Kantor Gubernur Kaltim mulai berangsur kondusif. Namun aparat kepolisian masih bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. (cc)










