Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutai Kartanegara (Kukar) tidak ingin kerusakan turap di kawasan Taman Musik Tenggarong kembali terjadi setelah diperbaiki. Atas dasar itu, penanganan nantinya akan mempertimbangkan penguatan konstruksi agar mampu bertahan dalam jangka panjang.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, mengatakan kondisi turap yang mengalami pergeseran membutuhkan penanganan lebih dari sekadar perbaikan biasa. Konstruksi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan agar tidak kembali mengalami kerusakan serupa.
“Kita berharap ketika diperbaiki, kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Jadi, tidak bisa hanya diperbaiki, kemudian beberapa waktu ke depan terjadi lagi,” ungkapnya di Tenggarong, Selasa (3/11/2026).
Disinggung apa faktor yang memengaruhi perubahan struktur tanah hingga turap di Taman Musik bergeser ke arah sungai, ia pun menjelaskan bahwa sebenarnya perencanaan dan konstruksi awal Taman Musik sebenarnya relatif sudah sesuai dengan ketentuan.
“Secara teknis, baik perencanaan maupun konstruksinya itu sebenarnya sudah sesuai dengan ketentuan. Hanya saja kemungkinan ini masalah alam,” bebernya.
Berdasarkan pengamatannya di lapangan, pergeseran turap diperkirakan mencapai 50 sentimeter. Kondisi tersebut membuat Dinas PU perlu memastikan jenis penanganan yang paling tepat sebelum pekerjaan perbaikan dilaksanakan. Untuk itu beber dia, Dinas PU Kukar akan berkoordinasi dengan akademisi dari Polnes guna melakukan kajian teknis.
“Kita akan mendengarkan rekomendasi dari mereka. Apakah masih bisa diperbaiki dan ditarik kembali agar posisinya rapi, atau memang lebih efektif jika dibongkar dan dibangun ulang,” bebernya.
Menurutnya, penguatan konstruksi kemungkinan akan menambah kebutuhan biaya dibandingkan perbaikan dalam kondisi normal. Sebab, pemerintah perlu menyiapkan struktur yang lebih kuat untuk mengantisipasi potensi kerusakan serupa.
“Ketika posisinya tidak normal, tentunya kita harus membuat perkuatan-perkuatan tertentu. Konstruksinya juga harus lebih kuat,” jelasnya.
Sebelumnya, pembangunan kawasan Taman Musik menelan anggaran sekitar Rp36 miliar pada 2025. Namun, besaran biaya untuk perbaikan belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil kajian dan perhitungan teknis.
Wiyono mengatakan penanganan Taman Musik perlu mendapat perhatian karena kawasan tersebut menjadi salah satu ikon Tenggarong. Keberadaannya juga mendukung aktivitas pariwisata dan ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ini wajah kota kita. Tentu menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Selanjutnya, Dinas PU menargetkan kajian bersama Polnes dapat dilakukan dalam November 2026. Jika memungkinkan, perbaikan kawasan tersebut akan diupayakan masuk dalam rencana pekerjaan pada 2027.
“Dalam waktu dekat ini, karena arahan DPRD, mereka akan men-support juga di 2027. Kalau misalnya dimungkinkan ya alhamdulillah bisa kita perbaikin di 2027,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










