Samarinda, Sketsa.id – Kasus meninggalnya Mandala Rizky Syahputra, siswa SMK di Samarinda yang diduga mengalami infeksi akibat sepatu kekecilan, menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Di tengah narasi viral yang berkembang, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, mengingatkan pentingnya melihat kasus ini secara utuh tanpa terburu-buru menyalahkan pihak tertentu.
Ayunda menilai narasi yang berkembang di media sosial berpotensi memicu emotional contagion atau penularan emosi massal, di mana masyarakat cenderung mencari kambing hitam tanpa didukung fakta dan data yang memadai. “Artinya narasi yang dibangun di media sosial itu sebenarnya malah bisa memicu emosi yang menyebar cepat. Jatuhnya jadi asumsi liar, dan ada kecenderungan masyarakat mencari siapa yang salah,” ujarnya dalam wawancara, Jumat (8/5/2026).
Menurut Ayunda, dari informasi yang beredar, ibu Mandala lebih memilih pengobatan non-medis dibanding membawa anaknya ke fasilitas kesehatan. Namun ia enggan berspekulasi bahwa hal itu disebabkan oleh gangguan psikologis sang ibu.
“Bisa jadi karena kurangnya informasi yang akurat tentang penyakit yang dialami Mandala. Ini bisa bermula dari ketidakpahaman dan ketidaktahuan, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang juga kurang sejahtera,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa akses terbatas untuk mendapatkan pengetahuan tentang fasilitas kesehatan dan kondisi medis bisa menjadi faktor utama.
“Ibu memilih pengobatan alternatif berdasarkan pengetahuan yang ia miliki saat itu. Saya rasa tidak ada indikasi kesengajaan untuk tidak membawa anaknya ke dokter,” tegasnya.
Lingkungan Sekitar dan Sekolah Punya Tanggung Jawab Moral
Ayunda juga menyoroti peran lingkungan terdekat, termasuk pihak sekolah. Meskipun sekolah disebut telah memberikan bantuan dana, sembako, dan keperluan hidup Mandala, ia menilai bantuan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pendampingan yang lebih intensif.
“Tanggung jawab pihak sekolah tidak hanya memberikan bantuan lalu menyerahkan sepenuhnya pada keluarga tanpa follow up. Kalau sudah diberi bantuan tapi Mandala tetap tidak bisa membeli sepatu, seharusnya sekolah bertanya ke mana bantuan itu digunakan,” katanya. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu membangun budaya peduli, bukan hanya menjadi pengamat atau penonton.
“Kita harus jadi protektif sistem. Jangan abai terhadap kesusahan orang lain hanya karena berpikir itu bukan urusan kita,” pesannya.
Ayunda mengajak semua pihak untuk menjadikan kasus ini sebagai momentum evaluasi bersama, bukan ajang saling menyalahkan, serta memastikan bahwa ketika ada anak dalam kesulitan, ada yang mengawal dan mendampingi. (cc)









