Balikpapan, Sketsa.id – Isu miring yang menyebut evakuasi Badak Pari dari Hutan Lindung Buring Ayok di Mahakam Ulu sengaja dilakukan untuk membuka akses konsesi lahan akhirnya terjawab dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari tingkat provinsi yang digelar BKSDA Kaltim di Balikpapan, beberapa waktu lalu. Dalam forum tersebut, otoritas kehutanan dan para ilmuwan secara tegas membantah tuduhan perambahan habitat dan menegaskan bahwa pemindahan satu-satunya badak kalimantan betina yang tersisa di alam bebas itu murni didasari atas pertimbangan ilmiah dan darurat biologis.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, memastikan bahwa pasca-translokasi, status kawasan Buring Ayok justru akan diusulkan ke pemerintah pusat sebagai areal preservasi atau konservasi. Lokasi yang berada di tapal batas Kaltim-Kalteng ini, menurutnya, tidak akan hilang atau beralih fungsi. “Kami sepakat habitatnya tetap dipertahankan. Nanti kami usulkan menjadi areal preservasi ke pemerintah pusat. Sehingga ketika penyelamatan berhasil dan berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran lagi,” tegas Ari.
Menyelamatkan Genetik Sebelum Terlambat
Urgensi evakuasi Badak Pari lebih dari sekadar menyelamatkan nyawa individu. drh Muhammad Agil, tim ahli reproduksi badak Indonesia, menjelaskan bahwa dengan membawa Pari ke Suaka Badak Kelian di Kutai Barat, para ilmuwan bisa mengamankan material genetik yang sangat berharga—sesuatu yang tidak mungkin dilakukan jika ia tetap di alam liar. “Kalau dia mati di alam dan tidak ketahuan, dalam hitungan jam sel-selnya akan hancur. Kita hanya bisa memanfaatkan tulangnya untuk kerangka museum. Jangan sampai itu terjadi,” ujar Agil.
Di suaka, tim medis dapat mengkoleksi biopsi kulit dan mukosa gusi Pari untuk dikembangkan menjadi kultur jaringan atau cell line. Dari sel-sel tubuh tersebut, para peneliti berpeluang menghasilkan sel sperma dan sel telur artifisial, hingga membuka jalan bagi program bayi tabung maupun kloning. “Dengan material ini, kita bisa mengembangkan individu baru yang genetiknya 100 persen sama dengan Pari, dengan umur yang lebih muda. Itu harapan jangka panjang untuk menyelamatkan spesies dari kepunahan,” tambahnya.
Harapan di Tengah Kepunahan
Badak Pari adalah satu-satunya betina Badak Kalimantan yang diketahui masih hidup di alam. Tanpa pasangan dan terisolasi, masa depannya di alam sangat suram. Dengan memindahkannya ke suaka dan menggabungkannya dengan Pahu badak jantan yang lebih dulu diamankan—para ilmuwan optimistis program reproduksi berbantuan bisa membuahkan hasil. Harapannya, anak-cucu Pari suatu hari nanti bisa dilepasliarkan kembali ke Hutan Lindung Buring Ayok yang tetap dijaga kelestariannya.
“Jangan sampai seperti Malaysia, yang sudah kehilangan badak sumateranya dan tidak punya material biologis untuk dikembangkan. Kita masih punya kesempatan,” pungkas Agil. (*)









