Samarinda, Sketsa.id – Jika Anda rajin berselancar di media sosial Kalimantan Timur, pasti kenal dengan akun-akun para konten kreator lokal yang kerap menjadi corong dukungan untuk kebijakan pemerintah daerah. Mereka adalah garda depan yang biasa tampil membela setiap keputusan gubernur dengan argumen-argumen bernas.
Tapi dalam kasus mobil Rp8,5 miliar ini, mereka seperti tertelan bumi.
Sunyi di Tengah Badai
Padahal serangan dari luar bertubi-tubi. Aktivis nasional seperti Jhon Sitorus melontarkan kritik tajam. Akun-akun dari Jakarta seperti @bungjesss dan @jbayuuawann melontarkan sindiran pedas yang viral. Tagar #MobilDinasKaltim dan #RudyMas’ud sempat trending di platform X.
Namun dari kubu pendukung lokal? Hening.
Biasanya, tak butuh waktu lama bagi akun-akun Kaltim untuk merespons. Mereka akan hadir dengan data, argumen, atau setidaknya serangan balik untuk membela pemimpinnya. Tapi kali ini, linimasa media sosial Kaltim justru dipenuhi oleh warganya sendiri yang ikut mengkritik.
“Gub ngehe… mobil mewah di Jakarta buat ‘menopang marwah Kaltim’. Gobloog, bawa-bawa agama pula,” tulis @bpwmt_batibul, sebuah akun lokal.
“Mobilnya di Jakarta, dijaga dong marwah kita, marwah masyarakat Kaltim jancokkk… thanks udah angkat masalah gubernur Kaltim yang beli mobil 8,5 M padahal jalan banyak hancorrrrr,” tambah @yantiloversss, juga akun lokal.
Apa Arti Diam Mereka?
Dalam ilmu komunikasi politik, diamnya pendukung setia bisa menjadi indikator yang lebih akurat daripada polling. Ketika barisan terdepan memilih tidak tampil, itu bisa berarti beberapa hal.
Pertama, mereka mungkin tidak punya argumen untuk membela kebijakan ini. Ketika data dan fakta di lapangan—seperti jalan rusak, infrastruktur pendidikan yang masih minim di daerah terpencil, dan efisiensi anggaran yang sedang digaungkan—berbicara berbeda, sulit untuk memproduksi narasi pembelaan yang masuk akal.
Kedua, bisa jadi mereka sendiri kecewa. Para influencer lokal biasanya adalah bagian dari masyarakat yang juga merasakan langsung kondisi infrastruktur dan pelayanan publik. Mungkin saja mereka diam karena tidak ingin terlihat munafik di hadapan pengikutnya.
Ketiga, ini bisa menjadi sinyal bahwa basis dukungan gubernur mulai tergerus. Ketika orang-orang terdekat yang biasanya menjadi corong memilih bungkam, itu pertanda ada yang tidak beres.
Perbandingan dengan Respons Biasanya
Mari kita bandingkan dengan polemik sebelumnya. Saat program Gratispol diluncurkan dan menuai kritik, para pendukung lokal langsung bergerak. Mereka membanjiri kolom komentar dengan data jumlah penerima beasiswa, testimoni mahasiswa, dan argumen tentang investasi sumber daya manusia.
Saat ada isu tentang kebijakan infrastruktur, mereka hadir dengan dokumentasi proyek dan penjelasan teknis.
Tapi untuk mobil Rp8,5 miliar ini? Nihil. Yang ada justru warganet lokal yang ikut mengkritik, bahkan dengan bahasa yang keras dan sarkastik.
Sentimen ini mungkin menjelaskan mengapa para influencer lokal memilih bungkam. Mereka tahu betul kondisi di lapangan. Mereka paham bahwa publik sedang tidak ingin mendengar pembelaan yang dipaksakan.
Bukan Sekadar Mobil
Polemik ini sebenarnya bukan hanya tentang mobil senilai Rp8,5 miliar. Ini tentang prioritas, tentang rasa keadilan, dan tentang sejauh mana pemimpin mendengar suara rakyatnya. Ketika para pendukung setia memilih diam, itu adalah sinyal yang tak bisa diabaikan.
Apakah Gubernur Rudy Mas’ud dan timnya membaca sinyal ini? Apakah mereka akan melakukan evaluasi atau tetap melanjutkan rencana pengadaan? Publik menunggu.
Yang jelas, diamnya pendukung lokal ini menjadi babak baru dalam drama politik Kaltim. Sebuah keheningan yang lebih keras dari teriakan. (cc)









