Waisak 2026 di Samarinda: Bhikkhu Ajak Umat Praktik Jalan Tengah dan Jauhi Kejahatan

Minggu, 31 Mei 2026 - 08:11 WITA
Bagikan:
Foto: patung buddha. (sketsa.id)

Samarinda, Sketsa.id – Hari Raya Waisak tiba tanpa gemuruh. Tanpa hitung mundur, tanpa sorak sorai. Hanya ada hening yang menyelimuti Vihara Muladharma, Samarinda, ketika detik-detik suci itu tiba pada Minggu (31/5/2026) sore.

Umat Buddha duduk tenang. Mata terpejam. Nafas diatur perlahan. Mereka bermeditasi bersama, menyambut Waisak dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling dalam.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan hiruk pikuk, Waisak tahun ini kembali mengingatkan pesan yang terdengar sederhana: jangan berbuat buruk, perbanyak kebajikan, dan jaga kejernihan pikiran. Tiga hal itu, bagi umat Buddha, bukan sekadar nasihat moral. Itulah inti ajaran yang terus dipraktikkan, termasuk saat memperingati kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Sang Buddha Gautama.

Bhikkhu sekaligus Kepala Vihara Muladharma Samarinda, Y.M. Thitaviriyo Thera, menjelaskan bahwa tema Waisak tahun ini adalah Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri. Tema ini bertepatan dengan peringatan 50 tahun Sangha Theravada Indonesia yang berdiri sejak 1976.

“Tujuannya supaya seluruh umat Buddha itu ingat lagi pada jalan yang sudah diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu jalan tengah di mana mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan,” ujarnya sebelum prosesi Waisak dimulai.

Apa itu Jalan Mulia Berunsur Delapan? Dalam praktik sehari-hari, ajaran ini diwujudkan melalui hal-hal yang tampak sederhana. Umat diajak menjalankan lima sila: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi minuman yang memabukkan.

Selain menjaga perilaku, umat juga diajak melatih samadhi atau meditasi serta mengembangkan kebijaksanaan. Tujuannya agar mampu memahami kehidupan dengan lebih baik.

“Itulah tujuannya menapaki jalan mulia,” kata dia.

Lalu, apa makna “bersumbangsih bagi negeri”? Bagi sebagian orang, kontribusi mungkin identik dengan tindakan besar atau jabatan penting. Namun dalam pandangan Buddhis, perubahan bisa dimulai dari diri sendiri.

Seseorang yang mampu mengendalikan perbuatannya, menjaga ucapan, serta menumbuhkan pikiran yang baik, diyakini telah memberikan sumbangsih bagi lingkungan sekitarnya.

“Nah setelah menapaki jalan mulia, umat Buddha secara langsung maupun tidak langsung juga bersumbangsih bagi negeri. Artinya dengan berperilaku yang baik, kemudian melakukan aksi-aksi sosial, tujuannya adalah supaya negeri ini menjadi lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih damai,” tuturnya.

Salah satu hal menarik dari perayaan Waisak di Indonesia adalah tradisi menyambut detik-detik Waisak dengan meditasi bersama. Menurut Thitaviriyo Thera, tradisi ini hanya ada di Indonesia.

“Detik Waisak ini hanya ada di Indonesia. Di luar negeri mereka tidak ada menyambut Detik Waisak. Karena kita merasa perlu umat Buddha itu setahun sekali bermeditasi menyambut Detik Waisak,” katanya.

Melalui perenungan tersebut, umat diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan sekaligus menemukan kedamaian dalam diri. Di tengah berbagai persoalan kehidupan, ajaran yang disampaikan Sang Buddha ribuan tahun lalu dinilai tetap relevan hingga hari ini. Bukan karena menawarkan jalan pintas menuju kebahagiaan, melainkan karena mengajak manusia untuk terus memperbaiki diri.

Dalam khotbahnya, Thitaviriyo Thera juga menyinggung peran Bhante Mahakassapa, salah seorang murid utama Sang Buddha yang berperan menjaga kelestarian ajaran Buddha setelah Sang Buddha mencapai parinibbana.

Pada masa itu, ajaran Buddha belum dituliskan. Semua diwariskan melalui hafalan dan pengulangan lisan. Mahakassapa kemudian mengumpulkan para bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat untuk mengulang kembali ajaran Sang Buddha agar tetap terjaga kemurniannya.

“Karena berkat jasa beliau, kita bisa mengenal Dhamma sekarang,” ujarnya.

Menjelang parinibbana, Sang Buddha masih memberi kesempatan kepada para muridnya untuk bertanya apabila ada ajaran yang belum dipahami. Setelah tidak ada lagi pertanyaan, Sang Buddha menyampaikan pesan terakhir yang terus dikenang umat Buddha hingga saat ini.

“Jadikanlah Dharma itu sebagai pulau bagi kalian, karena segala yang terbentuk sewajarnya mengalami kehancuran. Maka berjuanglah dengan sungguh-sungguh tanpa lengah,” ujarnya mengutip pesan terakhir Sang Buddha.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan berubah. Karena itu, manusia diajak untuk tidak terlena dan terus berusaha mengembangkan kebajikan selama masih memiliki kesempatan.

Thitaviriyo Thera mengajak umat Buddha untuk tidak berhenti pada ritual tahunan. Ia berharap ajaran Buddha benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan mempraktikkan tiga hal ini saja, maka kita sebetulnya mendatangkan kebahagiaan bagi diri kita sendiri dan juga kita mendatangkan kebahagiaan bagi banyak orang,” pungkasnya.

Di balik lilin, doa, dan meditasi yang mengiringi perayaan Waisak, tersimpan sebuah pelajaran sederhana namun tak pernah kehilangan makna: menjadi manusia yang lebih baik selalu dimulai dari diri sendiri. (*)

Bagikan:

DRUPADI Baladika Kaltim Gelar Aksi Damai Bagi Bunga Mawar di Tengah Gelombang Demo